ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN EFUSI PLEURA

Standard

Image

 

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia_Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Medikal Bedah 1 ( KMB 1 ) ini.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang membantu memberikan semangat dan dorongan demi terwujudnya karya ini, yaitu makalah Keperawatan Medical Bedah 1 (KMB 1)  ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yaitu Ns. Febbryanti, S.Kep yang telah  membantu kami, sehingga kami merasa lebih ringan dan lebih mudah menulis makalah ini. Atas bimbingan yang telah berikan, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang juga membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi yang kami sajikan masih kurang sempurna.Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dengan tujuan untuk menyempurnakan makalah ini.

Dan kami berharap, semoga makalah ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin, baik itu bagi diri sendiri maupun yang membaca makalah ini.

                                                                                                            Padang, 25 November 2012

                                                                                                                        Penulis

                 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. I.       LATAR BELAKANG

Efusi pleura merupakan penyakit sauran pernapasan. Penyakit ini bukan merupakan suatu disease entity tetapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita (WHO).

Efusi pleural adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan visceral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleural bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).

Secara geografis penyakit ini tersdapat diseluruh dunia bahkan menjadi masalah utama di negara – negara yang sedang berkembang termasuk Indonesia. Hal ini disebabkan karena faktor lingkungan di Indonesia. Penyakit efusi pleura dapat ditemukan sepanjang tahun dan jarang dijumpai secara sporadis tetapi lebih sering bersifat epidemikk di suatu daerah.

Pengetahuan yang dalamtentang efusi pleura dan segalanya merupakan pedoman dalam pemberian asuhan keperawatan yang tepat. Disamping pemberian obat, penerapan proses keperawatan yang tepat memegang peranan yang sangat penting dalam proses penyembuhan dan pencegahan, guna mengurangi angka kesakitan dan kematian akibat efusi pleura.

  1. II.    TUJUAN
  2. Tujuan Umum

Mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan keperawatan secara komprehensif terhadap klien efusi pleura

  1. Tujuan Khusus

Setelah melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan efusi pleura. maka

mahasiswa/i diharapkan mampu :

  1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan efusi pleura
  2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan efusi pleura
  3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan efusi pleura
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan efusi pleura
  5. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan efusi pleura

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. I.             DEFENISI

Efusi pleura adalah suatu keadaan ketika rongga pleura dipenuhi oleh cairan ( terjadi penumpukkan cairan dalam rongga pleura).Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus.

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dari dalam kavum pleura diantara pleura parietalis dan pleura viseralis dapat berupa cairan transudat atau cairan eksudat ( Pedoman Diagnosis danTerapi / UPF ilmu penyakit paru, 1994, 111).

Efusi pleura adalah penumpukan cairan di dalam ruang pleura, proses penyakit primer jarang terjadi namun biasanya terjadi sekunder akibat penyakit lain. Efusi dapat berupa cairan jernih, yang mungkin merupakan transudat, eksudat, atau dapat berupa darah atau pus (Baughman C Diane, 2000)

Efusi pleura adalah pengumpulan cairan dalam ruang pleura yang terletak diantara permukaan viseral dan parietal, proses penyakit primer jarang terjadi tetapi biasanya merupakan penyakit sekunder terhadap penyakit lain. Secara normal, ruang pleural mengandung sejumlah kecil cairan (5 sampai 15ml) berfungsi sebagai pelumas yang memungkinkan permukaan pleura bergerak tanpa adanya friksi (Smeltzer C Suzanne, 2002).

Efusi pleura adalah istilah yang digunakan bagi penimbunan cairan dalam rongga pleura. (Price C Sylvia, 1995)

Pleura merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang melapisi rongga dada (pleura parietalis) dan menyelubungi paru (pleura visceralis).

  1. II.          ETIOLOGI
  • Hambatan resorbsi cairan dari rongga pleura, karena adanya bendungan seperti pada dekompensasi kordis, penyakit ginjal, tumor mediatinum, sindroma meig (tumor ovarium) dan sindroma vena kava superior.
  • Pembentukan cairan yang berlebihan, karena radang (tuberculosis, pneumonia, virus), bronkiektasis, abses amuba subfrenik yang menembus ke rongga pleura, karena tumor dimana masuk cairan berdarah dan karena trauma. Di Indonesia 80% karena tuberculosis. Kelebihan cairan rongga pleura dapat terkumpul pada proses penyakit neoplastik, tromboembolik, kardiovaskuler, dan infeksi. Ini disebabkan oleh sedikitnya satu dari empat mekanisme dasar :
  1. Peningkatan tekanan kapiler subpleural atau limfatik
  2. Penurunan tekanan osmotic koloid darah
  3. Peningkatan tekanan negative intrapleural
  4. Adanya inflamasi atau neoplastik pleura
  • Neoplasma, seperti neoplasma bronkogenik dan metastatik.
  • Kardiovaskuler, seperti gagal jantung kongestif, embolus pulmonary dan perikarditis.
  • Penyakit pada abdomen, seperti pankreatitis, asites, abses dan sindrom Meigs.
  • Infeksi yang disebabkan bakteri, virus, jamur, mikobakterial dan parasit.
  • Trauma
  • Penyebab lain seperti lupus eritematosus sistemik, rematoid arthritis, sindroms nefrotik dan uremia
  1. III.       MANIFESTASI KLINIS
  • Adanya timbunan cairan mengakibatkan perasaan sakit karena pergesekan, setelah cairan cukup banyak rasa sakit
  • Adanya gejala-gejala penyakit penyebab seperti demam, menggigil, dan nyeri dada pleuritis (pneumonia), panas tinggi (kokus), subfebril (tuberkulosisi), banyak keringat, batuk, banyak sputum.
  • Deviasi trachea menjauhi tempat yang sakit dapat terjadi jika terjadi penumpukan cairan pleural yang signifikan.
  • Pemeriksaan fisik dalam keadaan berbaring dan duduk akan berlainan, karena cairan akan berpindah tempat. Bagian yang sakit akan kurang bergerak dalam pernapasan, fremitus melemah (raba dan vocal), pada perkusi didapati daerah pekak, dalam keadaan duduk permukaan cairan membentuk garis melengkung (garis Ellis Damoiseu).
  • Didapati segitiga Garland, yaitu daerah yang pada perkusi redup timpani dibagian atas garis Ellis Domiseu. Segitiga Grocco-Rochfusz, yaitu daerah pekak karena cairan mendorong mediastinum kesisi lain, pada auskultasi daerah ini didapati vesikuler melemah dengan ronki.
  • Pada permulaan dan akhir penyakit terdengar krepitasi pleura.

 

  1. ANATOMI FISIOLOGI

Pleura adalah suatu lapisan ganda jaringan tipis yang terdiri dari; sel-sel mesotelial, jaringan ikat, pembuluh–pembuluh darah kapiler, dan pembuluh–pembuluh getah bening. Seluruh jaringan tersebut memisahkan paru–paru dari dinding dada dan mediastinum.Pleura terdiri dari 2 lapisan yang berbeda yakni pleura viseralis dan pleura parietalis. Kedua lapisan pleura ini bersatu pada hilus paru. Dalam beberapa hal terdapat perbedaan antara kedua pleura ini yakni:

  1. Pleura viseralis, bagian permukaan luarnya terdiri dari selapis sel mesotelial yang tipis (tebalnya tidak lebih dari 30 um). Diantara celah–celah sel ini terdapat beberapa sel limfosit. Dibawah sel–sel mesotellial ini terdapat endopleura yang berisi fibrosit dan histiosit. Seterusnya dibawah ini (dinamakan lapisan tengah) terdapat jaringan kolagen dan serat–serat elastik. Pada lapisan terbawah terdapat jaringan interstitial subpleura yang sangat banyak mengandung pembuluh darah kapiler dari Arteri pulmonalis dan Arteri brakialis serta pembuluh getah bening. Keseluruhan jaringan pleura viseral ini menempel dengan kuat pada jaringan parenkim paru.
  2. Pleura parietalis, disini lapisan jaringan lebih tebal dan terdiri juga dari sel-sel mesotelial dan jaringan ikat (jaringan kolagen dan serat–serat elastik). Dalam jaringan ikat ini terdapat pembuluh kapiler dari arteri interkostalis dan arteri mammaria interna, pembuluh getah bening dan banyak reseptor saraf – saraf sensoris yang peka terhadap rasa sakit dan perbedaan temperatur. Sistem persyarafan ini berasal dari nervus interkostalis dinding dada dan alirannya sesuai dengan dermatom dada. Keseluruhan jaringan pleura parietalis ini menempel dengan mudah, tapi juga mudah dilepaskan dari dinding dada diatasnya.
  1. V.          PARASITOLOGI

Patofisiologi terjadinya efusi pleura tergantung pada keseimbangan antara cairan dan protein dalam rongga pleura.dalam keadaan normal cairan pleura dibentuk secara lambat sebagai filtrasi melalui pembuluh darah kapiler.Filtrasi ini terjadi karena perbedaan tekanan osmotik plasma dan jaringan interstisial submesotelial, kemudian melalui sel mesotelial masuk kedalam rongga pleura.Selain itu cairan pleura dapat melalui pembuluh limfe sekitar pleura.

Pada umumnya, efusi karena penyakit pleura hampir mirip plasma (eksudat) , sedangkan yang timbul pada pleura normal merupakan ultrafiltrat plasma (transudat). Efusi yang berhubungan dengan pleuritis disebabkan oleh peningkatan permeabilitas pleura parietalis sekunder ( akibat samping) terhadap peradangan atau adanya neoplasma.

Klien dengan pleura normal pun dapat terjadi efusi pleura ketika terjadi payah jantung/gagal jantung kongestif.Saat jantung tidak dapat memompakkan darahnya secara maksimal keseluruh tubuh maka akan terjadi peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler yang selanjutnya timbul hipertensi kapiler sistemik dan cairan yang berada didalam pembuluh darah pada area tersebut bocor dan masuk kedalam pleura, ditambah dengan adanya penurunan reabsorbsi cairan tadi oleh kelenjar limfe di pleura mengakibatkan pengumpulan cairan yang abnormal/berlebihan.Hipoalbuminemia (misal pada klien nefrotik sindrom, malabsorbsi atau keadaan lain dengan asites dan edema anasarka) akan mengakibatkan terjadinya peningkatan pembentukkan cairan pleura dan reabsorbsi yang berkurang.Hal tersebut dikarenakan adanya penurunan pada tekanan onkotik intravaskular yang mengakibatkan cairan akan lebih mudah masuk kedalam rongga pleura.

Luas efusi pleura yang mengancam volume paru, sebagian akan bergantung pada kekakuan relatif paru dan dinding dada.Pada volume paru dalam batas pernapasan normal, dinding dada cenderung rekoil keluar sementara paru-paru cenderung untuk rekoil kedalam.

  1. VI.       WOC

Pleura

 
   

 

Keseimbangan antara cairan dan elektrolit

Peningkatan tekanan                                                                                 peningkatan permaebili

Pneumonalis                                                                                              kapiler

 
   

 

Transudat                                eksudat

       
       

 

 Penimbunan trransudat                                                                    perluasan  infeksi

   Dalam rongga pleura

       
     
   
 

 

emplema

Cairan tertimbun pada dasar paru2                                                          

                                                                                                       Cairan neorologis

 
   

 

Efusi pleura

 
   

 

Menghambat funfsi paru

 
   

 

                                                      Gagal napas

  1. VII.    KLASIFIKASI

Klasifikasi efusi pleura berdasarkan cairan yang terbentuk (Suzanue C Smeltezer dan Brenda G. Bare, 2002).

1)      Transudat

Merupakan filtrat plasma yang mengalir menembus dinding kapiler yang utuh, terjadi jika faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan dan reabsorbsi cairan pleura terganggu yaitu karena ketidakseimbangan tekanan hidrostaltik atau ankotik.

Transudasi menandakan kondisi seperti asites, perikarditis. Penyakit gagal jantung kongestik atau gagal ginjal sehingga terjadi penumpukan cairan.

2)      Eksudat

Ekstravasasi cairan ke dalam jaringan atau kavitas. Sebagai akibat inflamasi oleh produk bakteri atau humor yang mengenai pleura contohnya TBC, trauma dada, infeksi virus.

Efusi pleura mungkin merupakan komplikasi gagal jantung kongestif. TBC, pneumonia, infeksi paru, sindroma nefrotik, karsinoma bronkogenik, serosis hepatis, embolisme paru, infeksi parasitik.

VIII. KOMPLIKASI

  1. Fibrotoraks

Efusi pleura yang berupa eksudat yang tidak ditangani dengan drainase yang baik akan terjadi perlekatan fibrosa antara pleura parietalis dan pleura viseralis. Keadaan ini disebut dengan fibrotoraks. Jika fibrotoraks meluas dapat menimbulkan hambatan mekanis yang berat pada jaringan-jaringan yang berada dibawahnya. Pembedahan pengupasan(dekortikasi) perlu dilakukan untuk memisahkan membrane-membran pleura tersebut.

  1. Atalektasis

Atalektasis adalah pengembangan paru yang tidak sempurna yang disebabkan oleh penekanan akibat efusi pleura.

  1. Fibrosis paru

Fibrosis paru merupakan keadaan patologis dimana terdapat jaringan ikat paru dalam jumlah yang berlebihan. Fibrosis timbul akibat cara perbaikan jaringan sebagai kelanjutan suatu proses penyakit paru yang menimbulkan peradangan. Pada efusi pleura, atalektasis yang berkepanjangan dapat menyebabkan penggantian jaringan paru yang terserang dengan jaringan fibrosis.

  1. Kolaps Paru

Pada efusi pleura, atalektasis tekanan yang diakibatkan oleh tekanan ektrinsik pada sebagian / semua bagian paru akan mendorong udara keluar dan mengakibatkan kolaps paru.

  1. IX.       PEMERIKSAAN PENUNJANG
    1. Sinar Tembus Dada

Yang dapat terlihat dalam foto efusi pleura adalah terdorongnya mediastinum pada sisi yang berlawanan dengan cairan. Akan tetapi, bila terdapat atelektasis pada sisi yang bersamaan dengan cairan, mediastinum akan tetap pada tempatnya.

  1. Torakosintesi

Aspirasi cairan pleura berguna sebagai sarana untuk diagnostik maupun terapeutik. Torakosentesis sebaiknya dilakukan pada posisi duduk. Lokasi aspirasi adalah pada bagian bawah paru disela iga ke-9 garis aksila posterior dengan memakai jarum abbocath nomor 14 atau 16. Pengeluaran cairan sebaiknya tidak lebih dari 1000-1.500 cc pada setiap kali aspirasi. Jika aspirasi dilakukan sekaligus dalam jumlah banyak, maka akan menimbulkan syok pleural ( hipotensi ) atau edema paru. Edema paru terjadi karena paru-paru terlalu cepat mengembang.

  1. Biopsi Pleura

Pemeriksaan histologis satu atau beberapa contoh jaringan pleura dapat menunjukkan 50-75% diagnosis kasus pleuritis tuberkulosis dan tumor pleura. Bila hasil biopsi pertama tidak memuaskan dapat dilakukan biopsi ulangan. Komplikasi biopsi adalah pneumotorak, hemotorak, penyebaran infeksi atau tumor pada dinding dada.

Pendekatan pada Efusi yang tidak terdiagnosis

Pemeriksaan penunjang lainnya:

ü  Bronkoskopi: pada kasus-kasus neoplasma, korpus alienum, abses paru.

ü  Scanning isotop: pada kasus-kasus dengan emboli paru.

ü  Totakoskopi ( fiber-optik pleuroscopy ) : pada kasus dengan neoplasma atau TBC.

PERBEDAAN CAIRAN TRANSUDAT DAN EKSUDAT

 

No

 

Transudat

Eksudat

1

Warna

Kuning pucat, jernih

Jernih,keruh,purulen,hemoragik

2

Bekuan

-/+

3

Berat jenis

< 1018

>1018

4

Leukosit

<1000Ul

Bervariasi,>1000uL

5

Eritrosit

Sedikit

Biasanya banyak

6

Hitung jenis

MN(limfosit/mesotel)

Terutama polimorfonuklear (PMN)

7

Protein total

<50% serum

>50% serum

8

LDH

<60% serum

>60% serum

9

Glukosa

= plasma

=/<plasma

10

Fibrinogen

0,3- 4 %

4-6 % atau lebih

11

Amilase

>50% serum

12

Bakteri

-/+

  1. X.          PENATALAKSANAAN

Tujuan pengobatan adalah untuk menemukan penyebab yang mendasari untuk mencegah kembali penumpukan cairan, dan untuk menghilangkan rasa tidak nyaman serta dispnea. Pengobatan spesifik diarahkan pada penyebab yang mendasari.

  1. Torasentesis dilakukan untuk membuang cairan, mengumpulkan spesimen untuk analisis, dan menghilangkan dispnea.
  2. Selang dada dan drainase water-seal mungkin diperlukan untuk pneumotoraks ( kadang merupakan akibat torasentesis berulang )
  3. Obat dimasukkan kedalam ruang pleural untuk mengobliterasi ruang pleura dan mencegah penumpukan cairan lebih lanjut.
  4. Modalitas pengobatan lainnya : radiasi dinding dada, operasi pleuraktomi, dan terapi diuretik.

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

 

  1. 1.      PENGKAJIAN
  • Identitas klien

Nama, umur, kuman TBC menyerang semua umur, jenis kelamin, tempat tinggal (alamat), pekerjaan, pendidikan dan status ekonomi menengah kebawah dan satitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita TB patu yang lain. (dr. Hendrawan Nodesul, 1996. Hal 1).

  • Keluhan Utama

Keluhan utama merupakan faktor utama yang mendorong pasien mencari pertolongan atau berobat ke rumah sakit. Biasanya pada pasien dengan effusi pleura didapatkan keluhan berupa sesak nafas, rasa berat pada dada, nyeri pleuritik akibat iritasi pleura yang bersifat tajam dan terlokasilir terutama pada saat batuk dan bernafas serta batuk non produktif.

  • Riwayat penyakit sekarang

Meliputi keluhan atau gangguan yang sehubungan dengan penyakit yang di rasakan saat ini. Dengan adanya sesak napas, batuk, nyeri dada, keringat malam, nafsu makan menurun dan suhu badan meningkat mendorong penderita untuk mencari pengobatan.

Pasien dengan effusi pleura biasanya akan diawali dengan adanya tanda-tanda seperti batuk, sesak nafas, nyeri pleuritik, rasa berat pada dada, berat badan menurun dan sebagainya. Perlu juga ditanyakan mulai kapan keluhan itu muncul. Apa tindakan yang telah dilakukan untuk menurunkan atau menghilangkan keluhan-keluhannya tersebut.

  • Riwayat penyakit dahulu

Keadaan atau penyakit – penyakit yang pernah diderita oleh penderita yang mungkin sehubungan dengan tuberkulosis paru antara lain ISPA efusi pleura serta tuberkulosis paru yang kembali aktif.

  • Riwayat penyakit keluarga

Mencari diantara anggota keluarga pada tuberkulosis paru yang menderita penyakit tersebut sehingga sehingga diteruskan penularannya.

  • Riwayat psikososial

Meliputi perasaan pasien terhadap penyakitnya, bagaimana cara mengatasinya serta bagaimana perilaku pasien terhadap tindakan yang dilakukan terhadap dirinya.
Pada penderita yang status ekonominya menengah ke bawah dan sanitasi kesehatan yang kurang ditunjang dengan padatnya penduduk dan pernah punya riwayat kontak dengan penderita tuberkulosis paru yang lain (dr. Hendrawan Nodesul, 1996).

  • Pola fungsi kesehatan
  1. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat

Adanya tindakan medis dan perawatan di rumah sakit mempengaruhi perubahan persepsi tentang kesehatan, tapi kadang juga memunculkan persepsi yang salah terhadap pemeliharaan kesehatan. Kemungkinan adanya riwayat kebiasaan merokok, minum alkohol dan penggunaan obat-obatan bisa menjadi faktor predisposisi timbulnya penyakit.

Pada klien dengan TB paru biasanya tinggal didaerah yang berdesak – desakan, kurang cahaya matahari, kurang ventilasi udara dan tinggal dirumah yang sumpek.

  1. Pola nutrisi dan metabolik

Dalam pengkajian pola nutrisi dan metabolisme, kita perlu melakukan pengukuran tinggi badan dan berat badan untuk mengetahui status nutrisi pasien, selain juga perlu ditanyakan kebiasaan makan dan minum sebelum dan selama MRS pasien dengan effusi pleura akan mengalami penurunan nafsu makan akibat dari sesak nafas dan penekanan pada struktur abdomen. Peningkatan metabolisme akan terjadi akibat proses penyakit. pasien dengan effusi pleura keadaan umumnya lemah.

Pada klien dengan TB paru biasanya mengeluh anoreksia, nafsu makan menurun.

  1. Pola eliminasi

Dalam pengkajian pola eliminasi perlu ditanyakan mengenai kebiasaan ilusi dan defekasi sebelumdan sesudah MRS. Karena keadaan umum pasien yang lemah, pasien akan lebih banyak bed rest sehingga akan menimbulkan konstipasi, selain akibat pencernaan pada struktur abdomen menyebabkan penurunan peristaltik otot-otot tractus degestivus.

Klien TB paru tidak mengalami perubahan atau kesulitan dalam miksi maupun defekasi.

  1. Pola aktivitas dan latihan

Akibat sesak nafas, kebutuhan O2 jaringan akan kurang terpenuhi dan Px akan cepat mengalami kelelahan pada aktivitas minimal. Disamping itu pasien juga akan mengurangi aktivitasnya akibat adanya nyeri dada. Dan untuk memenuhi kebutuhan ADL nya sebagian kebutuhan pasien dibantu oleh perawat dan keluarganya.

Dengan adanya batuk, sesak napas dan nyeri dada akan menganggu aktivitas.

  1. Pola tidur dan istirahat

Adanya nyeri dada, sesak nafas dan peningkatan suhu tubuh akan berpengaruh terhadap pemenuhan kebutuhan tidur dan istirahat, selain itu akibat perubahan kondisi lingkungan dari lingkungan rumah yang tenang ke lingkungan rumah sakit, dimana banyak orang yang mondar-mandir, berisik dan lain sebagainya.

Dengan adanya sesak napas dan nyeri dada pada penderita TB paru mengakibatkan terganggunya kenyamanan tidur dan istirahat.

  1. Pola hubungan dan peran

Akibat dari sakitnya, secara langsung pasien akan mengalami perubahan peran, misalkan pasien seorang ibu rumah tangga, pasien tidak dapat menjalankan fungsinya sebagai seorang ibu yang harus mengasuh anaknya, mengurus suaminya. Disamping itu, peran pasien di masyarakatpun juga mengalami perubahan dan semua itu mempengaruhi hubungan interpersonal pasien.

Klien dengan TB paru akan mengalami perasaan asolasi karena penyakit menular.

  1. Pola sensori dan kognitif

Daya panca indera (penciuman, perabaan, rasa, penglihatan, dan pendengaran) tidak ada gangguan.

  1. Pola persepsi dan konsep diri

Persepsi pasien terhadap dirinya akan berubah. Pasien yang tadinya sehat, tiba-tiba mengalami sakit, sesak nafas, nyeri dada. Sebagai seorang awam, pasien mungkin akan beranggapan bahwa penyakitnya adalah penyakit berbahaya dan mematikan. Dalam hal ini pasien mungkin akan kehilangan gambaran positif terhadap dirinya. Karena nyeri dan sesak napas biasanya akan meningkatkan emosi dan rasa kawatir klien tentang penyakitnya.

  1. Pola reproduksi dan seksual

Kebutuhan seksual pasien dalam hal ini hubungan seks intercourse akan terganggu untuk sementara waktu karena pasien berada di rumah sakit dan kondisi fisiknya masih lemah.

Pada penderita TB paru pada pola reproduksi dan seksual akan berubah karena kelemahan dan nyeri dada.

  1. Pola penanggulangan stress

Bagi pasien yang belum mengetahui proses penyakitnya akan mengalami stress dan mungkin pasien akan banyak bertanya pada perawat dan dokter yang merawatnya atau orang yang mungkin dianggap lebih tahu mengenai penyakitnya.
Dengan adanya proses pengobatan yang lama maka akan mengakibatkan stress pada penderita yang bisa mengkibatkan penolakan terhadap pengobatan.

  1. Pola tata nilai dan kepercayaan

Sebagai seorang beragama pasien akan lebih mendekatkan dirinya kepada Tuhan dan menganggap bahwa penyakitnya ini adalah suatu cobaan dari Tuhan.
Karena sesak napas, nyeri dada dan batuk menyebabkan terganggunya aktifitas ibadah klien.

  • Pemeriksaan fisik
    • Status Kesehatan Umum

Tingkat kesadaran pasien perlu dikaji, bagaimana penampilan pasien secara umum, ekspresi wajah pasien selama dilakukan anamnesa, sikap dan perilaku pasien terhadap petugas, bagaimana mood pasien untuk mengetahui tingkat kecemasan dan ketegangan pasien. Perlu juga dilakukan pengukuran tinggi badan berat badan pasien.

  1. 2.      DIAGDOSA
  • Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi paru, kerusakan membran alveolar kapiler
  •  Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan adanya akumulasi sekret jalan napas
  • Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan primer dan sekresi yang statis
  1. 3.      INTERVENSI
    1. 1.      Dx 1 : Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan penurunan kemampuan ekspansi paru, kerusakan membran alveolar kapiler

Tujuan :tidak adanya gangguan pertukaran gas

Kriteria hasil :

Klien akan :

  • Melaporkan berkurangnya dyspnea
  • Memperluihatkan peningkatan ventilasi dan oksigenasi yang adekuat

Intervensi Rasionalisasi

  • Kaji adanya dyspnea, penuruna suara nafas, bunyi nafas tambahan, peningkatan usaha untuk bernafas, ekspansi dada yang terbatas , kelelahan

Rasional : Tuberkulosis pulmonal dapat menyebabkan efek yang luas, termasuk penimbunan cairan di pleura sehingga menghasilkan gejala distress pernafasan.

  • Evaluasi perubahan kesadaran . Perhatikan adanya cyanosis , dan perubahan warna kulit, membran mukosa dan clubbing finger.

Rasional : Akumulasi sekret yang berlebihan dapat mengganggu oksigenasi organ dan jaringan vital

  • Dorong/ajarkan bernapas melalui mulut saat ekshalasi

Rasional : Menciptakan usaha untuk melawan outflow udara, mencegah kolaps karena jalan napas yang sempit, membantu doistribusi udara dan menurunkan napas yang pendek

  • Tingkatkan bedrest / pengurangi aktifitas

Rasional : Mengurangi konsumsi oksigen selama periode bernapas dan menurunkan gejala sesak napas  (Doengoes, Marilyn (1989))

  1. 2.      Dx 2 : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi sekret di jalan napas

Tujuan : Bersihnya jalan napas

Kriteria hasil :

  • Klien akan dapat mempertahankan jalan napas yang paten
  • Memperlihatkan perilaku mempertahankan  bersihan jalan napas

Intervensi

  • Kaji fungsi paru, adanya bunyi napoas tambahan, perubahan irama dan kedalaman, penggunaan otot-otot aksesori

Rasional : Penurunan bunyi napas mungkin menandakan atelektasis, ronchi, wheezing menunjukkan adanya akumulasi sekret, dan ketidakmampuan untuk membersihkan jalan napas menyebabkan penggunaan otot aksesori dan peningkatan usaha bernapas.

  • Atur posisi semi fowler

Rasional :Memaksimalkan ekspansi paru dan menurunkan upaya pernafasan. Ventilasi maksimal dapat membuka area atelektasis, mempermudah pengaliran sekret keluar

  • Pertahankan intake cairan 2500 ml/hari

Rasional :Intake cairan mengurangi penimbunan sekret, memudahkan pembersihan

  • Kolaborasi :Pemberian oksigen lembab

Rasional : Mencegah mukosa membran kering, mengurangi secret

(Doengoes, Marilyn (1989)

  1. 3.      Dx 3 : . Resiko tinggi penyebaran infeksi berhubungan dengan penurunan pertahanan primer dan sekresi yang statis

Tujuan : penyebaran infeksi teratasi

Kriteria hasil :

Klien akan dapat :

  • Mengidentifikasi cara pencegahan dan penurunan resiko penyebaran infeksi
  • Mendemonstrasikan teknik/gaya hidup yang berubah untuk meningkatkan lingkungan yang aman terhadap penyebaran infeksi.

Intervensi :

  • Jelaskan tentang patologi penyakit secara sederhana dan potensial penyebaran infeksi melalui droplet air borne

Rasional : Membantu klien menyadari/menerima prosedur pengobatan dan perawatan untuk mencegah penularan pada orang lain dan mencegah komplikasi

  • Ajarkan klien untuk batuk dan mengeluarkan sputum dengan menggunakan tissue. Ajarkan membuang tissue yang sudah dipakai serta mencuci tangan dengan baik

Rasional : Membiasakan perilaku yang penting untuk mencegah penularan infeksi

  • Monitor suhu sesuai sesuai indikasi

Rasional : Reaksi febris merupakan indikator berlanjutnya infeksi

  • Observasi perkembangan klien setiap hari dan kultur sputum selama terapi

Rasional : Membantu memonitor efektif tidaknya pengonbatan dan respons klien

Rasional :Inh merupakan pilihan obat untuk klien beresiko terhadap perkembangan TB dan dikombinasikan dengan “primary drugs” lain jhususnya pada penyakit tahap lanjut.(Doengoes, Marilyn (1989)

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. I.             KESIMPULAN

Efusi pleura adalah suatu keadaan dimana terdapat penumpukan cairan dalam pleura berupa transudat atau eksudat yang diakibatkan karena terjadinya ketidakseimbangan antara produksi dan absorpsi di kapiler dan pleura viseralis. Efusi  pleura bukanlah suatu disease entity tapi merupakan suatu gejala penyakit yang serius yang dapat mengancam jiwa penderita.

Etiologi terhadap efusi pleura adalah pembentukan cairan dalam rongga pleura dapat disebabkan oleh banyak keadaan yang dapat berasal dari kelainan paru sendiri, misalnya infeksi baik oleh bekteri atau virus.

Gejala klinis efusi pleura yaitu nyeri pada pleuritik dan batuk kering dapat terjadi, cairan pleura yang berhubungan dengan adanya nyeri dada biasanya eksudat. Gejala fisik tidak dirasakan bila cairan kurang dari 200 – 300 ml. Tanda – tanda yang sesuai dengan efusi pleura yang lebih besar adalah penurunan fremitus, redup pada perkusi dan berkurangnya suara napas.

  1. II.          SARAN
  • Untuk Instansi
    • Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan
  • Untuk Klien dan Keluarga
    • Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai.

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilynn E., 1999, Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, EGC : Jakarta

Brunner & Suddarth.2000.Keperawatan Medikal Bedah.Jakarta:EGC

Somantri Irman.2009.Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan. Jakarta:Salemba Medika

Suriadi, skp, msn & rita yuliani, skp. M.psi,” asuhan keperawatan pada anak”, edisi 2. Jakarta 2010

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN TRAUMA THORAK

Standard

Image

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. I.             LATAR BELAKANG

Trauma torak semakin meningkat sesuai dengan kemajuan transportasi dan kondisi sosial ekonomi masyarakat.· Di Amerika Serikat didapatkan 180.000 kematian pertahun karena trauma. 25 % diantaranya karena trauma torak langsung, sedangkan 5 % lagi merupakan trauma torak tak langsung atau penyerta

Pneumotoraks didefinisikan sebagai adanya udara di dalam kavum/rongga pleura. Tekanan di rongga pleura pada orang sehat selalu negatif untuk dapat mempertahankan paru dalam keadaan berkembang (inflasi). Tekanan pada rongga pleura pada akhir inspirasi 4 s/d 8 cm H2O dan pada akhir ekspirasi 2 s/d 4 cm H2O.

Kerusakan pada pleura parietal dan/atau pleura viseral dapat menyebabkan udara luar masuk ke dalam rongga pleura, Sehingga paru akan kolaps. Paling sering terjadi spontan tanpa ada riwayat trauma; dapat pula sebagai akibat trauma toraks dan karena berbagai prosedur diagnostik maupun terapeutik.

Dahulu pneumotoraks dipakai sebagai modalitas terapi pada TB paru sebelum ditemukannya obat anti tuberkulosis dan tindakan bedah dan dikenal sebagai pneumotoraks artifisial . Kemajuan teknik maupun peralatan kedokteran ternyata juga mempunyai peranan dalam meningkatkan kasus-kasus pneumotoraks antara lain prosedur diagnostik seperti biopsi pleura, TTB, TBLB; dan juga beberapa tindakan terapeutik seperti misalnya fungsi pleura, ventilasi mekanik, IPPB, CVP dapat pula menjadi sebab teradinya pneumotoraks (pneumotoraks iatrogenik).

 

  1. II.                TUJUAN
  • Tujuan Umum

Mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan keperawatan secara komprehensif terhadap klien trauma dada ini

  • Tujuan Khusus

Setelah melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan bronchitis kronis. Maka mahasiswa/i diharapkan mampu :

  1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan trauma dada
  2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan trauma dada
  3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan trauma dada
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan trauma dada
  5. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan trauma dada

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. I.                   DEFENISI

Trauma adalah luka atau cedera fisik lainnya atau cedera fisiologis akibat gangguan emosional yang hebat (Brooker, 2001).

Trauma adalah penyebab kematian utama pada anak dan orang dewasa kurang dari 44 tahun. Penyalahgunaan alkohol dan obat telah menjadi faktor implikasi pada trauma tumpul dan tembus serta trauma yang disengaja atau tidak disengaja (Smeltzer, 2001).

Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Hudak, 1999).

Trauma thorax adalah semua ruda paksa pada thorax dan dinding thorax, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994).

Trauma thorax adalah luka atau cedera yang mengenai rongga thorax yang dapat menyebabkan kerusakan pada dinding thorax ataupun isi dari cavum thorax yang disebabkan oleh benda tajam atau bennda tumpul dan dapat menyebabkan keadaan gawat thorax akut

Hematotorax adalah tedapatnya darah dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan.

Di dalam toraks terdapat dua organ yang sangat vital bagi kehidupan manusia, yaitu paru-paru dan jantung. Paru-paru sebagai alat pernapasan dan jantung sebagai alat pemompa darah. Jika terjadi benturan atau trauma pada dada, kedua organ tersebut bisa mengalami gangguan atau bahkan kerusakan.

 

  1. II.                ETIOLOGI

ü  Tamponade jantung : disebabkan luka tusuk dada yang tembus ke mediastinum/daerah jantung.

ü  Hematotoraks : disebabkan luka tembus toraks oleh benda tajam, traumatik atau spontan

ü  Pneumothoraks : spontan (bula yang pecah) ; trauma (penyedotan luka rongga dada) ; iatrogenik (“pleural tap”, biopsi paaru-paru, insersi CVP, ventilasi dengan tekanan positif) (FKUI, 1995)

 

  1. III.             ANATOMI FISIOLOGI

Kerangka rongga thorax, meruncing pada bagian atas dan berbentuk kerucutterdiri dari sternum, 12 vertebra thoracalis, 10 pasang iga yang berakhir di anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang yang melayang.

Kartilago dari 6 igamemisahkan articulasio dari sternum, kartilago ketujuh sampai sepuluh berfungsimembentuk tepi kostal sebelum menyambung pada tepi bawah sternu. Perluasanrongga pleura di atas klavicula dan di atas organ dalam abdomen penting untuk dievaluasi pada luka tusuk.

Musculus pectoralis mayor dan minor merupakanmuskulus utama dinding anterior thorax. Muskulus latisimus dorsi, trapezius,rhomboideus, dan muskulus gelang bahu lainnya membentuk lapisan muskulus posterior dinding posterior thorax. Tepi bawah muskulus pectoralis mayor membentuk lipatan/plika aksilaris posterior.

Dada berisi organ vital paru dan jantung, pernafasan berlangsung dengan bantuan gerak dinding dada. Inspirasi terjadi karena kontraksi otot pernafasan yaitumuskulus interkostalis dan diafragma, yang menyebabkan rongga dada membesar sehingga udara akan terhisap melalui trakea dan bronkus.

Pleura adalah membran aktif yang disertai dengan pembuluh darah danlimfatik. Disana terdapat pergerakan cairan, fagositosis debris, menambal kebocoranudara dan kapiler. Pleura visceralis menutupi paru dan sifatnya sensitif, pleura ini berlanjut sampai ke hilus dan mediastinum bersama – sama dengan pleura parietalis,yang melapisi dinding dalam thorax dan diafragma.

Pleura sedikit melebihi tepi paru pada setiap arah dan sepenuhnya terisi dengan ekspansi paru – paru normal, hanyaruang potensial yang ada.Diafragma bagian muskular perifer berasal dari bagian bawah iga keenamkartilago kosta, dari vertebra lumbalis, dan dari lengkung lumbokostal, bagianmuskuler melengkung membentuk tendo sentral.

Nervus frenikus mempersarafimotorik dari interkostal bawah mempersarafi sensorik. Diafragma yang naik setinggi putting susu, turut berperan dalam ventilasi paru – paru selama respirasi biasa /tenang sekitar 75%.

 

  1. IV.             PATOFISIOLOGI

Rongga dada terdiri dari sternum, 12 verebra torakal, 10 pasang iga yang berakhir di anterior dalam segmen tulang rawan dan 2 pasang iga yang melayang. Di dalam rongga dada terdapat paru-paru yang berfungsi dalam sistem pernafasan. Apabila rongga dada mengalami kelainan, maka akan terjadi masalah paru-paru dan akan berpengaruh juga bagi sistem pernafasan.

Akibat trauma dada disebabkan karena:

Tension pneumothorak cedera pada paru memungkinkan masuknya udara (tetapi tidak keluar) ke dalam rongga pleura, tekanan meningkat, menyebabkan pergeseran mediastinum dan kompresi paru kontralateral demikian juga penurunan aliran baik venosa mengakibatkan kolapnya paru. Pneumothorak tertutup dikarenakan adanya tusukan pada paru seperti patahan tulang iga dan tusukan paru akibat prosedur infasif penyebabkan terjadinya perdarahan pada rongga pleural meningkat mengakibatkan paru-paru akan menjadi kolaps.

Kontusio pasru mengakibatkan tekanan pada rongga dada akibatnya paru-paru tidak dapat mengembang dengan sempurna dan ventilasi menjadi terhambat akibat terjadinya sesak nafas. Sianosis dan tidak menutup kemungkinan akan terjadi syok.

 

  1. V.                MANIFESTASI KLINIS

ü  Nyeri pada tempat trauma, bertambah pada saat inspirasi.

ü  Pembengkakan lokal dan krepitasi yang sangat palpasi.

ü  Pasien menahan dadanya dan bernafas pendek.

ü  Dyspnea, takipnea

ü  Takikardi

ü  Tekanan darah menurun.

ü  Gelisah dan agitasi

ü  Kemungkinan cyanosis.

ü  Batuk mengeluarkan sputum bercak darah.

ü  Hypertympani pada perkusi di atas daerah yang sakit.

 

  1. VI.             KLASIFIKASI

Trauma thorak klasifikasikan menjadi :

  1. I.             Trauma tembus (tajam)
    1. Terjadi diskontinuitas dinding toraks (laserasi) langsung akibat penyebab trauma
    2. Terutama akibat tusukan benda tajam (pisau, kaca, dsb) atau peluru
    3. Sekitar 10-30% memerlukan operasi torakotomi2.

Trauma tembus, biasanya disebabkan tekanan mekanikal yang dikenakan secara direk yang berlaku tiba-tiba pada suatu area fokal. Pisau atau projectile, misalnya, akanmenyebabkan kerusakan jaringan dengan stretching dan crushing dan cedera biasanya menyebabkan batas luka yang sama dengan bahan yang tembus pada jaringan.

Berat ringannya cidera internal yang berlaku tergantung pada organ yangtelah terkena dan seberapa vital organ tersebut. Derajat cidera tergantung pada mekanisme dari penetrasi dan temasuk, diantarafaktor lain, adalah efisiensi dari energy yang dipindahkan dari obyek ke jaringan tubuhyang terpenetrasi.

Faktor faktor lain yang berpengaruh adalah karakteristik dari senjata, seperti kecepatan, size dari permukaan impak, serta densitas dari jaringantubuh yang terpenetrasi.

Pisau biasanya menyebabkan cidera yang lebih kecil karena iatermasuk proyektil dengan kecepatan rendah. Luka tusuk yang disebabkan oleh pisausebatas dengan daerah yang terjadi penetrasi. Luka disebabkan tusukan pisau biasanyadapat ditoleransi, walaupun tusukan tersebut pada daerah jantung, biasanya dapatdiselamatkan dengan penanganan medis yang maksimal.

Peluru termasuk proyektil dengan kecepatan tinggi, dengan biasanya bisamencapai kecepatan lebih dari 1800-2000 kali per detik. Proyektil dengan kecepatan yang tinggi dapat menyebabkan dapat menyebabkan berat cidera yang samadenganseperti penetrasi pisau, namun tidak seperti pisau, cidera yang disebabkan olehpenetrasi peluru dapat merusakkan struktur yang berdekatan dengan laluan peluru.

Ini karena disebabkan oleh terbentuknya kavitas jaringan dan dengan menghasilkangelombang syok jaringan yang bisa bertambah luas. Tempat keluar peluru mempunyadiameter 20-30 kali dari diameter peluru.

 

  1. 2.      Trauma tumpul
    1. Tidak terjadi diskontinuitas dinding toraks.
    2. Terutama akibat kecelakaan lalu-lintas, terjatuh, olahraga, crush atau blastinjuries.
    3. Kelainan tersering akibat trauma tumpul toraks adalah kontusio paru
    4. Sekitar <10% yang memerlukan operasi torakotomi
    5. Trauma tumpul lebih sering didapatkan berbanding trauma tembus,kira-kiralebih dari 90% trauma thoraks.

Dua mekanisme yang terjadi pada trauma tumpul:

–          transfer energi secara direk pada dinding dada dan organ thoraks

–          deselerasideferensial, yang dialami oleh organ thoraks ketika terjadinya impak.

 

Benturan yangsecara direk yang mengenai dinding torak dapat menyebabkan luka robek dan kerusakan dari jaringan lunak dan tulang seperti tulang iga. Cedera thoraks dengantekanan yang kuat dapat menyebabkan peningkatan tekanan intratorakal sehingga menyebabkan ruptur dari organ organ yang berisi cairan atau gas.

 

  1. VII.          KOMPLIKASI
    1. Surgical Emfisema Subcutis

Kerusakan pada paru dan pleura oleh ujung patahan iga yang tajam memungkinkan keluarnya udara ke dalam cavitas pleura dari jaringan dinding dada, paru.

Tanda-tanda khas: penmbengkakan kaki, krepitasi.

  1. Cedera Vaskuler

Di antaranya adalah cedera pada perikardium dapat membuat kantong tertutup sehingga menyulitkan jantung untuk mengembang dan menampung darah vena yang kembali. Pembulu vena leher akan mengembung dan denyut nadi cepat serta lemah yang akhirnya membawa kematian akibat penekanan pada jantung.

  1. Pneumothorak

Adanya udara dalam kavum pleura. Begitu udara masuk ke dalam tapi keluar lagi sehingga volume pneumothorak meningkat dan mendorong mediastinim menekan paru sisi lain.

  1. Pleura Effusion

Adanya udara, cairan, darah dalam kavum pleura, sama dengan efusi pleura yaitu sesak nafas pada waktu bergerak atau istirahat tetapi nyeri dada lebih mencolok. Bila kejadian mendadak maka pasien akan syok.

Akibat adanya cairan udara dan darah yang berlebihan dalam rongga pleura maka terjadi tanda – tanda :

–          Dypsnea sewaktu bergerak/ kalau efusinya luas pada waktu istirahatpun bisa terjadi dypsnea.

–          Sedikit nyeri pada dada ketika bernafas.

–          Gerakan pada sisi yang sakit sedikit berkurang.

–          Dapat terjadi pyrexia (peningkatan suhu badan di atas normal).

  1. Plail Chest

Pada trauma yang hebat dapat terjadi multiple fraktur iga dan bagian tersebut. Pada saat insprirasi bagian tersebut masuk sedangkan saat ekspirasi keluar, ini menunjukan adanya paroxicqalmution (gerakan pernafasan yang berlawanan)

  1. Hemopneumothorak

Yaitu penimbunan udara dan darah pada kavum pleura.

 

  1. VIII.       PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK

ü  Radiologi : foto thorax (AP).

ü  Gas darah arteri (GDA), mungkin normal atau menurun.

ü  Torasentesis : menyatakan darah/cairan serosanguinosa.

ü  Hemoglobin : mungkin menurun.

ü  Pa Co2 kadang-kadang menurun.

ü  Pa O2 normal / menurun.

ü  Saturasi O2 menurun (biasanya).

ü  Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,

 

  1. IX.             PENATALAKSANAAN

ü  Konservatif

  • Pemberian analgetik
  • Pemasangan plak/plester
  • Jika perlu antibiotika
  • Fisiotherapy

ü  Operatif/invasif

  • Pamasangan Water Seal Drainage (WSD).
  • Pemasangan alat bantu nafas.
  • Pemasangan drain.
  • Aspirasi (thoracosintesis).

ü  Operasi (bedah thoraxis)

ü  Tindakan untuk menstabilkan dada:

  • Miring pasien pada daerah yang terkena.
  • Gunakan bantal pasien pada dada yang terkena
  • Gunakan ventilasi mekanis dengan tekanan ekspirai akhir positif, didasarkan pada kriteria sebagai berikut:
  1. Gejala contusio paru
  2. Syok atau cedera kepala berat.
  3. Fraktur delapan atau lebih tulang iga.
  4. Umur diatas 65 tahun.
  5. Riwayat penyakit paru-paru kronis.

ü  Pasang selang dada dihubungkan dengan WSD, bila tension Pneumothorak mengancam.

ü  Oksigen tambahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

ASKEP TEORITIS

 

  1. 1.      PENGKAJIAN

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar dalam proses keperawatan secara menyeluruh (Boedihartono, 1994 : 10).Pengkajian pasien dengan trauma thoraks  (. Doenges, 1999) meliput :

  1. Aktivitas / istirahat

Gejala : dipnea dengan aktivitas ataupun istirahat

  1. Sirkulasi

Tanda : Takikardia ; disritmia ; irama jantunng gallops, nadi apical berpindah,tanda Homman ; TD : hipotensi/hipertensi ; DVJ

  1. Integritas ego

Tanda : ketakutan atau gelisah

  1.  Makanan dan cairan

Tanda : adanya pemasangan IV vena sentral/infuse tekanan.

  1. Nyeri/ketidaknyamanan

Gejala : nyeri uni laterl, timbul tiba-tiba selama batuk atau regangan, tajamdan nyeri, menusuk-nusuk yang diperberat oleh napas dalam, kemungkinanmenyebar ke leher, bahu dan abdomen.Tanda : berhati-hati pada area yang sakit, perilaku distraksi, mengkerutkanwajah

  1. Pernapasan

Gejala : kesulitan bernapas ; batuk ; riwayat bedah dada/trauma, penyakit parukronis, inflamasi,/infeksi paaru, penyakit interstitial menyebar, keganasan ;pneumothoraks spontan sebelumnya, PPOM.Tanda : Takipnea  peningkatan kerja napas ; bunyi napas turun atau tak ada ;fremitus menurun ; perkusi dada hipersonan ; gerakkkan dada tidak sama ;kulit  pucat,  sian osis,  berkeringat,  krepitasi  subkutan  ;  mental  ansietas,bingung, gelisah, pingsan ; penggunaan ventilasi mekanik tekanan positif

  1. keamanan

Geajala : adanya trauma dada ; radiasi/kemoterapi untuk kkeganasan

  1. Penyuluhan / pembelajaran

Gejala  :  riwayat  factor  risiko  keluarga,  TBC,  kanker  ;  adanya  bedahintratorakal/biopsy paru

 

  1. II.          DIAGNOSA KEPERAWATAN
    1. Ketidakefektifan pola pernapasan b/d ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.
    2. Inefektif bersihan jalan napas b/d peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.
    3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.

 

  1. III.       INTERVENSI

Intervensi dan implementasi keperawatan yang muncul pada pasien dengan trauma thorax (Wilkinson, 2006) meliputi :

 

  • Diagnosa 1 : Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.

Tujuan : Pola pernapasan efektive.

Kriteria hasil :

  • Memperlihatkan frekuensi pernapasan yang efektive.
  • Mengalami perbaikan pertukaran gas-gas pada paru.
  • Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.

Intervensi :

  1. Berikan posisi yang nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk sebanyak mungkin.

Rasionalnya : Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.

  1. Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau perubahan tanda-tanda vital.

Rasionalnya : Distress pernapasan dan perubahan pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.

  1. Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin keamanan.

Rasionalnya : Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau kolaps paru-paru.

Rasionalnya : Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.

Rasionalnya : Membantu klien mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai ketakutan/ansietas.

  1. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi baik, cek setiap 1 – 2 jam :
  2. Periksa pengontrol penghisap untuk jumlah hisapan yang benar.
    rasiobalnya : Mempertahankan tekanan negatif intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru optimum/drainase cairan.
  3. Periksa batas cairan pada botol penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.
    rasionalnya : Air penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir masuk ke area pleural.
  4. Observasi gelembung udara botol penempung.

Rasionalnya : gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang buntu.

  1. Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal, yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.

rasionalnya b: osisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang mengubah tekanan negative yang diinginkan.

 

  • Diagnosa II : Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.

Tujuan : Jalan napas lancar/normal

Kriteria hasil :

  • Menunjukkan batuk yang efektif.
  • Tidak ada lagi penumpukan sekret di sal. pernapasan.
  • Klien nyaman.

Intervensi :

  1. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.

Rasionalnya : Pengetahuan yang diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.

  1. Ajarkan klien tentang metode yang tepat pengontrolan batuk.

Rasionalnya :  Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.

 

  • Diagnosa III : Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma mekanik terpasang bullow drainage.

Tujuan : Mencapai penyembuhan luka pada waktu yang sesuai.

Kriteria Hasil :

  • tidak ada tanda-tanda infeksi seperti pus.
  • luka bersih tidak lembab dan tidak kotor.
  • Tanda-tanda vital dalam batas normal atau dapat ditoleransi.

Intervensi :

  1. Kaji kulit dan identifikasi pada tahap perkembangan luka.
    rasionalnya : mengetahui sejauh mana perkembangan luka mempermudah dalam melakukan tindakan yang tepat.
  2. Kaji lokasi, ukuran, warna, bau, serta jumlah dan tipe cairan luka.
    rasionalnya : mengidentifikasi tingkat keparahan luka akan mempermudah
  3. Pantau peningkatan suhu tubuh.

Rasionalnya : suhu tubuh yang meningkat dapat diidentifikasikan sebagai adanya proses peradangan.

  1. Berikan perawatan luka dengan tehnik aseptik. Balut luka dengan kasa kering dan steril, gunakan plester kertas.

Rasionalnya : tehnik aseptik membantu mempercepat penyembuhan luka dan mencegah terjadinya infeksi.

  1.  Jika pemulihan tidak terjadi kolaborasi tindakan lanjutan, misalnya debridement.

Rasionalnya : agar benda asing atau jaringan yang terinfeksi tidak menyebar luas pada area kulit normal lainnya.

  1. Setelah debridement, ganti balutan sesuai kebutuhan.
    rasionalnya : balutan dapat diganti satu atau dua kali sehari tergantung kondisi parah/ tidak nya luka, agar tidak terjadi infeksi.
  2. Kolaborasi pemberian antibiotik sesuai indikasi.

Rasionalnya : antibiotik berguna untuk mematikan mikroorganisme pathogen pada daerah yang berisiko terjadi infeksi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Doenges, Marilyn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan, Edisi 3. EGC : Jakarta.Boedihartono, 1994. Proses Keperawatan di Rumah Sakit. EGC : Jakarta.
Brooker, Christine. 2001. Kamus Saku Keperawatan. EGC : Jakarta.
Dorland, W. A. Newman. 2002. Kamus Kedokteran. EGC : Jakarta.
FKUI. 1995. Kumpulan Kuliah Ilmu bedah. Binarupa Aksara : Jakarta
Hudak, C.M. 1999. Keperawatan Kritis. Jakarta : EGC.
Nasrul Effendi. 1995. Pengantar Proses Keperawatan. EGC. Jakarta.
Smeltzer, Suzanne C. 2001. Keperawatan Medikal-Bedah Brunner and Suddarth Ed.8 Vol.3. EGC : Jakarta.
Wilkinson, Judith M. 2006. Buku Saku Diagnosis Keperawatan, edisi 7. EGC : Jakarta.
http://www.iwansain.wordpress.com

 

 

      

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PEMERIKSAAN FISIK PADA KLIEN PNEUMONIA

Standard

 

  • Status kesehatan umum

Pasien dalam kondisi dasar, CGS 456, tampak lemah, gelisah, dispnea, napas cepat dan dangkal, RR 35x/menit, nadi 110x/menit, regular, suhu 39,50C.

  • Sistem integument

Sianosis sekitar mulut dan hidung.

  • Kepala

tidak dipengaruhi

  • Muka

Sianosis sekitar mulut dan hidung

  • Mata

Terdapat konjungtiva anemis

  • Telinga

 

  • Hidung

Sianosis sekitar mulut dan hidung. Pernapasan cuping hidung.

  • Mulut dan faring

Sianosis sekitar mulut dan hidung.

  • Leher

Tidak dikaji

  • Thoraks

Retraksi pada daerah supraklavikular, ruang2 intercostalis dan sternocleidomastoideus. Batuk produktif dengan secret tidak bias dikeluarkan. Auskultasi ditemukan suara napas bronchial, ronkhi basah halus, bronkofoni. Rontgen toraks: gambaran multiple infiltrate pada paru sebelah kanan.

  • Jantung

Tidak dikaji

  • Abdomen

Perut tampak distended.

  • Inguinal-Genitalia-Anus

Tidak dikaji

  • Ekstrimitas

Tidak dikaji

  • Tulang belakang

Tidak dikaji

ASUHAN KEPERAWATAN DENGAN KLIEN PNEUMONIA

Standard

Image 

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia_Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Medikal Bedah 1 ( KMB 1 ) ini.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang membantu memberikan semangat dan dorongan demi terwujudnya karya ini, yaitu makalah Keperawatan Medical Bedah 1 (KMB 1)  ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yaitu Ns. Febbryanti, S.Kep yang telah  membantu kami, sehingga kami merasa lebih ringan dan lebih mudah menulis makalah ini. Atas bimbingan yang telah berikan, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang juga membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi yang kami sajikan masih kurang sempurna.Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dengan tujuan untuk menyempurnakan makalah ini.

Dan kami berharap, semoga makalah ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin, baik itu bagi diri sendiri maupun yang membaca makalah ini.

                                                                                                            Padang, 25 November 2012

                                                                                                                        Penulis

                                                                             

BAB I
LATAR BELAKANG

 

  1. I.       LATAR BELAKANG

Pneumonia merupakan penyakit yang sering terjadi dan setiap tahunnya menyerang sekitar 1% dari seluruh penduduk Amerika. Meskipun sudah ada kemajuan dalam bidang antibiotic, pneumonia tetap merupakan penyebab keatian keenam di Amerika Serikat.

Pneumonia sering terjadi pada anak usia 2 bulan – 5 tahun, pada usia dibawah 2 bulan pneumonia berat ditandai dengan frekuensi pernafasan sebanyak 60 kali/menit juga disertai penarikan kuat pada dinding dada sebelah bawah kedalam.

Pada usia 2 bulan sampai kurang dari 1 tahun, frekuensi pernafasan sebanyak 50 kali/menit dan pada usia 1 tahun sampai kurang dari 5 tahun frekuensi pernafasan sebanyak 40 kali/menit.

Pneumonia berat ditandai dengan adanya gejala seperti anak tidak bisa minum atau menetek, selalu memuntahkan semuanya, kejang dan terdapat tarikan dinding dada kedalam dan suara nafas bunyi krekels (suara nafas tambahan pada paru) saat inspirasi.

Kasus terbanyak terjadi pada anak dibawah 3 tahun dan kematian terbanyak pada bayi yang berusia kurang dari 2 bulan. Apabila anak diklasifikasikan menderita pneumonia berat di puskesmas atau balai pengobatan, maka anak perlu segera dirujuk setelah diberi dosis pertama antibiotik yang sesuai.

 Munculnya orhanisme nosokomial, yang resisten terhadap antibiotic, ditemukannya organism- organisme baru (seperti Legionella), bertambahnya jumlah pejamu yang lemah daya tahan tubuhnya dan adanya penyakit seperti AIDS semakin memperluas spectrum dan derajat kemungkinan penyebab-penyebab pneumonia, dan ini juga menjelaskan mengapa pneumonia masih merupakan masalah kesehatan yang mencolok.

Bayi dan anak kecil lebih rentan terhadap penyakit ini karena respon imunitas mererka masih belum berkembang dengan baik. Pneumonia pada orang tua dan orang yang lemah akibat penyakit kronik tertentu.

Pasien peminum alcohol, pasca bedah dan penderita penyakit pernapasan kronik atau infeksi virus juga mudah terserang penyakit ini. Hamper 60% dari pasien-pasien yang kritis di ICU dapat menderita pneumonia, dan setengah dari pasien-pasien tersebut

 

  1. II.    TUJUAN
  2. Tujuan Umum

Mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan keperawatan secara komprehensif terhadap klien pneumonia

  1. Tujuan Khusus

Setelah melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan pneumonia. maka

mahasiswa/i diharapkan mampu :

  1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan pneumonia
  2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan pneumonia
  3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan pneumonia
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan pneumonia
  5. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan pneumonia

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. I.       DEFENISI

Pneumonia adalah inflamasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian alveoli dengan cairan. Penyebabnya karena agen infeksi, irirtan kimia dan terapi radiasi. bakterinya bernama pneumococcal pneumonia.( Doenges, Marilynn E., 1999)

Pneumonia adalah penyakit inflamasi pada paru yang dicirikan dengan adanya konsolidasi akibat eksudat yang masuk dalam area alveoli.(Axton & Fugate, 1993).

Peradangan akut parenkim paru yang biasanya berasal dari suatu infeksi, disebut pneumonia. (Sylvia)

Penumonia adalah inflasi parenkim paru, biasanya berhubungan dengan pengisian cairan di dalam alveoli. Hal ini terjadi akibat adanya invaksi agen atau infeksius adalah adanya kondisi yang mengganggu tahanan saluran. Trakhabrakialis adalah beberapa keadaan yang mengganggu mekanisme pertahanan sehingga timbul infeksi paru misalnya, kesadaran menurun, umur tua, trakheastomi, pipa endotrakheal, dan lain-lain. Dengan demikian flora endogen yangmenjadi patogen ketika memasuki saluran pernapasan.( Ngasriyal,Perawatan Anak Sakit, 1997)

Pneumonia merupakan peradangan pada parenkim paru yang terjadi pada masa anak-anak dan sering terjadi pada masa bayi. Penyakit ini timbul sebagai penyakit primer dan dapat juga akibat penyakit komplikasi. (A. Aziz Alimul : 2006).

Pneumonia adalah infeksi saluran nafas bagian bawah. Penyakit ini adalah infeksi akut jaringan paru oleh mikroorganisme (Elizabeth J. Corwin)

Pneumonia adalah sebuah penyakit pada paru-paru di mana pulmonary alveolus (alveoli) yang bertanggung jawab menyerap oksigen dari atmosfer menjadi “inflame” dan terisi oleh cairan. (wikipedia.com)

  1. II.    ETIOLOGI

Pneumonia dapat disebabkan oleh bermacam-macam etiologi seperti:

v  Bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah staphylococcus aureus, streptococus, aeruginosa, legionella, hemophillus, influenza, eneterobacter.

Bakteri-bakteri tersebut berada pada kerongkongan manusia sehat, setelah system pertahanan

v  menurun oleh sakit, usia tua, atau malnutrisi, bakteri tersebut segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan.

v  Virus penyebab pneumonia diantaranya yaitu virus influenza, adenovirus,chicken-pox (cacar air). Meskipun virus-virus ini menyerang saluran pernafasan bagian atas, tetapi gangguan ini dapat memicu pneumonia, terutama pada anak-anak.

v  Organism mirip bakteri yaituMicoplasma pneumonia. Pneumonia jenis ini berbeda dengan pneumonia pada umumnya. Karena itu pneumonia yang diduga disebabkan oleh virus yang belum ditemukan ini sering disebut pneumonia yang tidak tipikal. Mikoplasma ini menyerang segala jenis usia.

v  Jamur penyebab pneumonia yaitu candida albicans

 

III. MANIFESTASI KLINIS

Orang dengan pneumonia sering kali disertai batuk berdahak, sputum kehijauan atau kuning, demam tinggi yang disertai dengan menggigil. Disertai nafas yang pendek, nyeri  dada seperti pada pleuritis ,nyeri tajam atau seperti ditusuk. Salah satu nyeri atau kesulitan selama bernafas dalam atau batuk.

Orang dengan pneumonia, batuk dapat disertai dengan adanya darah, sakit kepala atau mengeluarkan banyak keringat dan kulit lembab. Gejala lain berupa hilang nafsu makan, kelelahan,kulit menjadi pucat, mual, muntah, nyeri sendi  atau otot. Tidak jarang bentuk penyebab pneumonia mempunyai variasi gejala yang lain.

Misalnya pneumonia yang disebabkan oleh Legionella dapat menyebabkan nyeri perut dan diare, pneumonia karena tuberkulosis atau Pneumocystis hanya menyebabkan penurunan berat badan dan berkeringat pada malam hari. Pada orang tua manifestasi dari pneumonia mungkin tidak khas. Bayi dengan pneumonia lebih banyak gejala, tetapi pada banyak kasus,   mereka hanya tidur atau kehilangan nafsu makan

 

  1. IV.  ANATOMI FISIOLOGI

Sistem organ yang terkait dengan penyakit ini adalah sistem pernafasan. Sistem pernafasan terdiri dari :

  1. Hidung Rongga hidung dilapisi oleh epitelium gergaris. Terdapat sejumlahkelenjar sebaseus yang ditutupi oleh bulu kasar. Partikel-partikel debuyang kasar dapat disaring oleh rambut-rambut yang terdapat dalamlubang hidung, sedangkan partikel yang halus akan terjerat dalam lapisanmukus yang disekresi oleh sel goblet dan kelenjar serosa.

Gerakan silia mendorong lapisan mukus ke posterior di dalam rongga hidung, dan kesuperior di dalam sistem pernafasan di bagian bawah menuju ke faring.Dari sini lapisan mukus akan tertekan atau dibatukkan keluar. Air untuk kelembaban diberikan oleh lapisan mukus, sedangkan panas yang disuplaike udara inspirasi berasal dari jaringan di bawahnya yang kaya akan pembuluh darah. Jadi udara inspirasi telah disesuaikan sedemikian rupasehingga bila udara mencapai faring hampir bekas debu, bersuhumendekati suhu tubuh, dan kelembabannya mencapai 100%. 

  1. Faring Terdapat di bawah dasar tengkorak di belakang rongga hidung danrongga mulut, dan di depan ruas tulang leher

Merupakan pipa yang menghubungkan rongga mulut denganesofagus. Faring terbagi atas 3 bagian : nasofaring di belakang hidung,orofaring di belakang mulut, dan faring laringeal di belakang laring.Rongga ini dilapisi oleh selaput lendir yang bersilia. Di bawa selaputlendir terdapat jaringan kulit dan beberapa folikel getah bening.Kumpulan folikel getah bening ini disebut adenoid. Adenoid akanmembesar bila terjadi infeksi pada faring

  1. Laring Terletak di depan bagian terendah faring. Laring merupakanrangkaian cincin tulang rawan yang dihubungkan oleh otot dan di sanaterdapat pita suara. Di antara pita suara terdapat ruang berbentuk segitigayang bermuara ke dalam trakea dan dinamakan glotis. Pada waktumenelan, gerakan laring ke atas, penutupan glotis, dan fungsi seperti pintu pada aditus laring dari epiglotis yang berbentuk daun, berperananuntuk mengarahkan makanan dan cairan masuk ke dalam esofagus. Namun jika benda asing masih mampu untuk melampaui glotis, makalaring yang mempunyai fungsi batuk akan membantu menghalau bendadan sekret keluar dari saluran pernafasan.
  2. Trakea dan cabang-cabangnya  Panjangnya kurang lebih 9 centimeter. Trakea berawal dari laringsampai kira-kira ketinggian vertebra torakalis kelima, trakea bercabangmenjadi dua bronkus. Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluhlingkaran tak lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersamaoleh jaringan fibrosa. Letaknya tepat di depan esofagus. Trakea dilapisioleh selaput lendir yang terdiri atas epitelium bersilia. Tempat percabangan bronkus disebut karina. Karina memiliki banyak saraf dandapat menyebabkan spasme dan batuk yang kuat jika dirangsang. Struktur  bronkus sama dengan trakea. Bronkus-bronkus tersebut tidak simetris.

Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar dan merupakankelanjutan dari trakea yang arahnya hampir vertikal, sebaliknya bronkuskiri lebih panjang dan lebih sempit dan merupakan kelanjutan dari trakeadengan sudut yang lebih tajam. Cabang utama bronkus kanan dan kiri bercabang lagi menjadi bronkus lobaris dan kemudian bronkus segmentalis. Percabangan ini berjalan terus menjadi bronkus yang ukurannya semakin kecil sampaiakhirnya menjadi bronkiolus terminalis, yaitu saluran udara terkecil yangtidak mengandung alveoli. Bronkiolus terminalis memiliki garis tengahkurang lebih 1 mm. Bronkiolus dikelilingi oleh otot polos bukan tulangrawan sehingga bentuknya dapat berubah. Setelah bronkiolus terminalisterdapat asinus yang merupakan unit fungsional paru-paru, yaitu tempat pertukaran gas.

Asinus terdiri dari :

1) bronkiolus respiratorius

2) duktusalveolaris

3) sakus alveolaris terminalis, merupakan struktur akhir paru- paru. terdapat sekitar 23 kali percabangan mulai dari trakea sampai sakusalveolaris terminalis. Alveoli terdiri dari satu lapis tunggal sel epitelium pipih, dan di sinilah darah hampir langsung bersentuhan dengan udara.Dalam setiap paru-paru terdapat sekitar 300 juta alveolus dengan luas permukaan total seluas sebuah lapangan tenis.

5.               Paru-paruMerupakan alat pernafasan utama. Paru-paru merupakan organ yangelastis,berbentuk kerucut, dan letaknya di dalam rongga dada. Karena paru-paru saling terpisah oleh mediastinum sentral yang di dalamnyaterdapat jantung dan beberapa pembuluh darah besar. Setiap paru-parumemiliki apeks (puncak paru-paru) dan basis. Paru-paru ada dua. Paru- paru kanan lebih besar dari pada paru-paru kiri. Paru-paru kanan dibagimenjadi tiga lobus oleh fisura interlobaris, paru-paru kiri dibagi menjadidua lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula.Paru-paru dilapisi suatu lapisan tipis membran serosa rangkap duayang mengandung kolagen dan jaringan elastis yang disebut pleura

  1. V.    PATOFISIOLOGI

Gejala dari infeksi pneumonia disebabkan invasi pada paru-paru oleh mikroorganisme

dan respon sistem imun terhadap infeksi. Meskipun lebih dari seratus jenis  mikroorganisme yang dapat menyebabkan pneumonia, hanya sedikit dari mereka yang bertanggung jawab pada sebagian besar kasus. Penyebab paling sering pneumonia adalah virus dan bakteri. Penyebab yang jarang menyebabkan infeksi pneumonia ialah fungi dan parasit.

1)      Virus

Virus menyerang dan merusak sel untuk berkembang biak. Biasanya virus masuk kedalam paru-paru bersamaan droplet udara yang terhirup melalui mulut dan hidung. setelah  masuk virus menyerang jalan nafas dan alveoli. Invasi ini sering menunjukan kematian sel, sebagian virus langsung mematikan sel atau melalui suatu tipe penghancur sel yang disebut apoptosis.

Ketika sistem imun merespon terhadap infeksi virus,dapat terjadi kerusakan paru.Sel darah putih,sebagian besar limfosit, akan mengaktivasi sejenis sitokin yang membuat cairan masuk ke dalam alveoli.

Kumpulan dari sel yang rusak dan cairan dalam alveoli mempengaruhi pengangkutan oksigen ke dalam aliran darah. Sebagai tambahan dari proses kerusakan paru,banyak virus merusak organ lain dan kemudian menyebabkan fungsi organ lain terganggu.Virus juga dapat membuat tubuh rentan terhadap infeksi bakteri, untuk alasan ini, pneumonia karena bakteri sering merupakan komplikasi dari pneumonia yang disebabkan oleh virus.

Pneumonia virus biasanya disebabkan oleh virus seperti vitus influensa,virus syccytial  respiratory(RSV),adenovirus dan metapneumovirus.Virus herpes simpleks jarang menyebabkan pneumonia kecuali pada bayi baru lahir. Orang dengan masalah pada sistem imun juga berresiko terhadap pneumonia yang disebabkan oleh cytomegalovirus(CMV).

2)      Bakteri

Bakteri secara khusus memasuki paru-paru ketika droplet yang berada di udara dihirup,tetapi mereka juga dapat mencapai paru-paru melalui aliran darah ketika ada infeksi pada bagian lain dari tubuh.

Banyak bakteri hidup pada bagian atas dari saluran pernapasan atas seperti hidung,mulut,dan sinus dan dapat dengan mudah dihirup menuju alveoli.Setelah memasuki alveoli,bakteri mungkin menginvasi ruangan diantara sel dan diantara alveoli melalui rongga penghubung.Invasi ini memacu sistem imun untuk mengirim neutrophil yang adalah tipe dari pertahanan sel darah putih,menuju paru.Neutrophil menelan dan membunuh organisme yang berlawanan dan mereka juga melepaskan cytokin,menyebabkan aktivasi umum dari sistem imun.

Hal ini menyebabkan demam,menggigil,dan mual umumnya pada pneumoni yang disebabkan bakteri dan jamur. Neutrophil,bakteri,dan cairan dari sekeliling pembuluh darah mengisi alveoli dan mengganggu transportasi oksigen. Bakteri sering berjalan dari paru yang terinfeksi menuju aliran darah menyebabkan penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti septik syok dengan tekanan darah rendah dan kerusakan pada bagian-bagian tubuh seperti otak,ginjal,dan jantung.

Bakteri juga dapat berjalan menuju area antara paru-paru dan dinding dada(cavitas pleura) menyebabkan komplikasi yang dinamakan empyema. Penyebab paling umum dari pneumoni yang disebabkan bakteri adalah Streptococcus pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri atipikal.Penggunaan istilah “Gram positif” dan “Gram negatif” merujuk pada warna bakteri(ungu atau merah) ketika diwarnai menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan Gram.Istilah “atipikal” digunakan karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang yang lebih sehat,menyebabkan pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik yang berbeda dari bakteri yang lain.

Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada hidung atau mulut dari banyak orang sehat. Streptococcus pneumoniae, sering disebut”pneumococcus” adalah bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada segala usia kecuali pada neonatus.Gram positif penting lain penyebab dari pneumonia adalah Staphylococcus aureus. Bakteri Gram negatif penyebab pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram negatif.Beberapa dari bakteri gram negatif yang menyebabkan pneumoni termasuk bkan demam, menggigil, dan mual umumnya pada pneumoni yang disebabkan bakteri dan jamur. Neutrophil, bakteri, dan cairan dari sekeliling pembuluh darah mengisi alveoli dan mengganggu transportasi oksigen. Bakteri sering berjalan dari paru yang terinfeksi menuju aliran darah menyebabkan penyakit yang serius atau bahkan fatal seperti septik syok dengan tekanan darah rendah dan kerusakan pada bagian-bagian tubuh seperti otak,ginjal,dan jantung.Bakteri juga dapat berjalan menuju area antara paru-paru dan dinding dada(cavitas pleura) menyebabkan komplikasi yang dinamakan empyema. Penyebab paling umum dari pneumoni yang disebabkan bakteri adalah Streptococcus pneumoniae,bakteri gram negatif dan bakteri atipikal.

Penggunaan istilah “Gram positif” dan “Gram negatif” merujuk pada warna bakteri(ungu atau merah) ketika diwarnai menggunakan proses yang dinamakan pewarnaan Gram.Istilah “atipikal” digunakan karena bakteri atipikal umumnya mempengaruhi orang yang lebih sehat,menyebabkan pneumoni yang kurang hebat dan berespon pada antibiotik yang berbeda dari bakteri yang lain. Tipe dari bakteri gram positif yang menyebabkan pneumonia pada hidung atau mulut dari banyak orang sehat. Streptococcus pneumoniae, sering disebut”pneumococcus” adalah bakteri penyebab paling umum dari pneumoni pada segala usia kecuali pada neonatus.Gram positif penting lain penyebab dari pneumonia adalah Staphylococcus aureus.

Bakteri Gram negatif penyebab pneumonia lebih jarang daripada bakteri gram negatif.Beberapa dari bakteri gram negatif yang menyebabkan pneumoni termasuk Haemophilus influenzae,Klebsiella pneumoniae,Escherichia coli,Pseudomonas aeruginosa,dan Moraxella catarrhalis.Bakteri ini sering hidup pada perut atau intestinal dan mungkin memasuki paru-paru jika muntahan terhirup.Bakteri atipikal yang

menyebabkan pneumonia termasuk Chlamydophila pneumoniae,Mycoplasma pneumoniae,dan Legionella pneumophila.

3)      Jamur

Pneumonia yang disebabkan jamur tidak umum,tetapi hal ini mungkin terjadi pada  individu dengan masalah sistem imun yang disebabkan AIDS,obat-obatan imunosupresif atau masalah kesehatan lain.patofisiologi dari pneumonia yang disebabkan oleh jamur mirip dengan pneumonia yang disebabkan bakteri,Pneumonia yang disebabkan jamur paling sering disebabkan oleh Histoplasma capsulatum,Cryptococcus neoformans,Pneumocystis jiroveci dan Coccidioides immitis.

Histoplasmosis paling sering ditemukan pada lembah sungai Missisipi,dan Coccidiomycosis paling sering ditemukan pada Amerika Serikat bagian barat daya.

4)      Parasit

Beberapa varietas dari parasit dapat mempengaruhi paru-paru.Parasit ini secara khas  memasuki tubuh melalui kulit atau dengan ditelan.Setelah memasuki tubuh,mereka berjalan menuju paru-paru,biasanya melalui darah.

Terdapat seperti pada pneumonia tipe  lain ,kombinasi dari destruksi seluler dan respon imun yang menyebabkan ganguan transportasi oksigen.Salah satu tipe dari sel darah putih,eosinofil berespon dengan dahsyat terhadap infeksi parasit.Eosinofil pada paru-paru dapat menyebabkan pneumonia eosinofilik yang menyebabkan komplikasi yang mendasari pneumonia yang disebabkan parasit.Parasit paling umum yang dapat menyebabkan pneumonia adalah Toxoplasma gondii,Strongioides stercoralis dan Ascariasis. a adalah Toxoplasma  gondii,Strongioides stercoralis dan Ascariasis.

  1. VI.    WOC

 

VIRUS                           BAKTERI                               NIKROPLASMA                 JAMUR

 
   

 

 

                                       

                       

Masuk ke dalam saluran pernapasan

 

Paru paru

 

Bronkus alveoli                                                                                reseptor peradangan

           
     
   
       
 

 

 

Mengganggu kerja mikrofak                               hipotalamus

 
   

 

 

infeksi                                                                                                      hipertermi

 
   

 

 

                                             peradangan inflamasi                         keringat berlebih

                                                       

                                                        edema                                               resiko kekurangan cairan dan elektrolit

 
   

 

 

                                                     dispnae   difusi gangguan o2&co2           terganggu

                                                                                        produksi secret

       
     
   
 

 

 

       kelelahan                                                                   batuk              transportasi 02 menurun

      

       nadi lemah                                                                   jalan napas/             gangguan pertukaran
                                                                                                 tidak efektif               gas

                                                                                                                                      (penekanan diafragma)

                                 gangguan pola napas

                                                                                                                                      tekanan abdomen

 
   

 

 anoreksi                                                                                                                    saraf pusat

                          nutrisi berkurang            peningkatan metabolism              resiko thdp ggn nutrisi

  1. VII.    KLASIFIKASI

Secara Garis Besar Pneumonia Dapat Dibedakan Menjadi 3 Yaitu:

  1. Aspirasi pneumonia

Terjadi apabila tersedak dan ada cairan /makanan masuk ke paru- paru.pada bayi baru lahir, biasanya tersedak karena air ketuban atau asi.

  1. Pneumonia karena infeksi virus, bakteri, atau jamur

Umumnya penyebab infeksi paru adalah virus dan bakteri sepertistreptococcus pneumonia dan haemophylus influenzae. Gejala akanmuncul 1-2 hari setelah terinfeksi. Gejala yang muncul mulai dari demam,batuk lalu sesak nafas.

  1. Pneumonia akibat faktor lingkungan

Polusi udara menyebabkan sesak nafas terutama bagi yang alergi.bila tidak segera dilakukan pengobatan maka akan mengakibatkan bronchitis dan selanjutnya menjadi pneumonia.

 

  1. VIII.       KOMPLIKASI
    1. Gangguan pertukaran gas
    2. Obstruksi jalan napas
    3. Gagal pernapasan pleura effusion (bactery pneumonia)
  1. IX.             PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
    1. Sinar X : mengidentifikasikan distribusi struktural (misal: lobar, bronchial); dapat juga menyatakan abses).
    2. Pemeriksaan gram/kultur, sputum dan darah: untuk dapat mengidentifikasi semua organisme yang ada.
    3. Pemeriksaan serologi: membantu dalam membedakan diagnosis organisme khusus.
    4. Pemeriksaan fungsi paru: untuk mengetahui paru-paru, menetapkan luas berat penyakit dan membantu diagnosis keadaan.
    5. Biopsi paru: untuk menetapkan diagnosis
    6. Spirometrik static: untuk mengkaji jumlah udara yang diaspirasi.
    7. Bronkostopi: untuk menetapkan diagnosis dan mengangkat benda asing.

 

  1. X.    PENATALAKSANAAN
    1. Pengobatan yang intensive bila terdapat virus pneumonia
    2. Bila kondisi berat harus di rawat
    3. Berikan oksigen, fisioterapi dada dan cairan intravena
    4. Antibiotic sesuai dengan program
    5. Pemeriksaan sensitivitas untuk pemberian antibiotik

 

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

 

  1. I.       PENGKAJIAN
  2. Biodata
    1. Identitas Klien, meliputi :
      1. Nama/Nama panggilan
      2. Tempat tgl lahir/usia
      3. Jenis kelamin
      4. A g a m a
      5. Pendidikan
      6. Alamat
      7. Tgl/jam masuk
      8. Tgl pengkajian
      9. Diagnosa medic
      10. Rencana terapi
  1. Identitas Orang tua
    1. Ayah
    2. Ibu
  1. Keluhan utama
  • sesak naps
  1. Riwayat kesehatan
    1. Riwayat  Penyakit sekarang, tanyakan :
  • Apakah masih ada batuk, berapa lama
  • Apakah masih ada panas badan
  • Apakah nyeri dada kalau batuk
  • Apakah ada riak kalau batuk
  1. Riwayat kesehatan yang lalu, tanyakan :
  • Frekuensi ISPA
  • Riwauat Alergi
  • Kebiasaan merokok
  • Pengguaan obat-obatan
  • Imunisasi
  • Riwayat penyakit keturunan
  1. Riwayat Keluarga, tannyakan:
  • Apakah ada keluarga yang menderita batuk
  • Apakah ada keluarga yang  menderita alergi
  • Apakah ada keluarga yang menderita TBC, Cancer paru
  1. Riwayat Lingkungan
  • Apakah rumah dekat dengan pabrik
  • Apakah banyak asap atau debu
  • Apakah ada keluarga yang merokok
  1. Riwayat pekerjaan, tanyakan :
  • Apakah bekerja pada tempat yang banyak debu,asap
  • Apakah bekerja di pabrik
  • Apakah saat bekerja menggunakan alat pelindung.
  1. Pengkajian Fisik
    1. Ispeksi: 
  • Amati bentuk thorax
  • Amati Frekuensi napas, irama, kedalamannya
  • Amati tipe pernapasan  : Pursed lip breathing, pernapasan diapragma, penggunaan otot Bantu pernapasan
  • Tanda tanda reteraksi intercostalis , retraksi suprastenal
  • Gerakan dada
  •  Adakan tarikan didinding dada , cuping hidung, tachipnea
  • Apakah daa tanda tanda kesadaran meenurun
  1. Palpasi
  • Gerakan pernapasan
  • Raba apakah dinding dada panas
  • Kaji vocal premitus
  • Penurunan ekspansi dada
  1. Auskultasi
  • Adakah terdenganr stridor
  • Adakah terdengar wheezing
  • Evaluasi bunyi napas, prekuensi,kualitas, tipe dan suara tambahan
  1. Perkusi
  • Suara Sonor/Resonans merupakan karakteristik jaringan paru normal
  • Hipersonor , adanya tahanan udara
  • Pekak/flatness, adanya cairan dalan rongga pleura
  • Redup/Dullnes, adanya jaringan padat
  • Tympani, terisi udara.
  1. Faktor Psikososial/Perkembangan
    1. Usia, tingkat perkembangan.
    2. Toleransi/kemampuan memahami tindakan.
    3. Koping
    4. Pengalaman berpisah dengan keluarga/orang tua.
    5. Pengalaman infeksi saluran pernafasan sebelumnya
  1. Pengetahuan Keluarga, Psikososial
    1. Tingkat pengetahuan keluarga tentang penyakit bronchopneumonia.
    2. Pengalaman keluarga dalam menangani penyakit saluran pernafasan.
    3. Kesiapan/kemauan keluarga untuk belajar merawat anaknya.
    4. Koping keluarga
    5. Tingkat kecemasan
  1. Pemeriksaan Fisik
    1. Aktivitas/istirahat

Gejala : kelemahan, kelelahan, insomnia

Tanda : letargi, penurunan toleransi terhadap aktivitas.

  1. Sirkulasi

Gejala : riwayat adanya

Tanda : takikardia, penampilan kemerahan, atau pucat

  1. Makanan/cairan

Gejala : kehilangan nafsu makan, mual, muntah, riwayat diabetes mellitus
Tanda : sistensi abdomen, kulit kering dengan turgor buruk, penampilan kakeksia (malnutrisi)

  1. Neurosensori
    Gejala : sakit kepala daerah frontal (influenza)

Tanda : perusakan mental (bingung)

  1. Nyeri/kenyamanan

Gejala : sakit kepala, nyeri dada (meningkat oleh batuk), imralgia, artralgi
Tanda : melindungi area yang sakit (tidur pada sisi yang sakit untuk membatasi gerakan)

  1. Pernafasan
    Gejala : adanya riwayat ISK kronis, takipnea (sesak nafas), dispnea.
    Tanda :  sputum: merah muda, berkarat

perpusi: pekak datar area yang konsolidasi

premikus: taksil dan vocal bertahap meningkat dengan konsolidasi

Bunyi nafas menurun : Warna: pucat/sianosis bibir dan kuku

  1. Keamanan

Gejala : riwayat gangguan sistem imun misal: AIDS, penggunaan steroid, demam.
Tanda : berkeringat, menggigil berulang, gemetar

  1. Penyuluhan/pembelajaran
    Gejala : riwayat mengalami pembedahan, penggunaan alkohol kroni

Tanda : DRG menunjukkan rerata lama dirawat 6 – 8 hari

Rencana pemulangan: bantuan dengan perawatan diri, tugas pemeliharaan rumah

 

  1. II.    DIAGNOSA
  2. Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial,
    pembentukan edema, peningkatan produksi sputum.
  3. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan kapasitas pembawa oksigen darah.
  4. Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan
    pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.
  5. Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen.
  6. Nyeri (akut) berhubungan dengan inflamasi parenkim paru, batuk menetap.
  7. Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses infeksi.
  8. Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, penurunan masukan oral.

 

III. INTERVENSI

A. Dx 1 : Bersihan jalan nafas tak efektif berhubungan dengan inflamasi trachea bronchial, peningkatan produksi sputum, ditandai dengan:

  • Perubahan frekuensi, kedalaman pernafasan.
  • Bunyi nafas tak normal.
  • Dispnea, sianosis
  • Batuk efektif atau tidak efektif dengan/tanpa produksi sputum.

Tujuan  : Jalan nafas efektif

Kriteria hasil :

  • Batuk teratasi
  • Nafas normal
  • Bunyi nafas bersih
  • Tidak terjadi Sianosis

Intervensi:

  • Kaji frekuensi/kedalaman pernafasan dan gerakan dada
    Rasional : Takipnea, pernafasan dangkal dan gerakan dada tak simetris sering terjadi karena ketidaknyamanan.
  • Auskultasi area paru, catat area penurunan 1 kali ada aliran udara dan bunyi nafas.
    Rasional:  Penurunan aliran darah terjadi pada area konsolidasi dengan cairan.
  • Ajarkan teknik batuk efektif

Rasional : Batuk adalah mekanisme pembersihan jalan nafas alami untuk mempertahankan jalan nafas paten.

  • Penghisapan sesuai indikasi.

Rasional:  Merangsang batuk atau pembersihan jalan nafas suara mekanik pada faktor yang tidak mampu melakukan karena batuk efektif atau penurunan tingkat kesadaran.

  • Berikan cairan sesuai kebetuhan.

Rasional:  Cairan (khususnya yang hangat) memobilisasi dan mengeluarkan secret

  • Kolaborasi dengan dokter untuk pemberian obat sesuai indikasi: mukolitik.
    Rasional:  Alat untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret, analgetik diberikan untuk memperbaiki batuk dengan menurunkan ketidaknyamanan tetapi harus digunakan secara hati-hati, karena dapat menurunkan upaya batuk/menekan pernafasan

.

B. Dx 2 :  Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan gangguan pembawa oksigen darah, gangguan pengiriman oksigen, ditandai dengan:

  • Dispnea, sianosis
  • Takikardia
  • Gelisah/perubahan mental
  • Hipoksia

Tujuan   : gangguan gas teratasi

Kriteria hasil :

  • Tidak nampak sianosis
  • Nafas normal
  • Tidak terjadi sesak
  • Tidak terjadi hipoksia
  • Klien tampak tenang

Intervensi

  • Kaji frekuensi/kedalaman dan kemudahan bernafas

Rasional: Manifestasi distress pernafasan tergantung pada indikasi derajat keterlibatan paru dan status kesehatan umum.

  • Observasi warna kulit, membran mukosa dan kuku. Catat adanya sianosis perifer (kuku) atau sianosis sentral.

Rasional: sianosis kuku menunjukkan vasokontriksi respon tubuh terhadap demam/menggigil namun sianosis pada daun telinga, membran mukosa dan kulit sekitar mulut menunjukkan hipoksemia sistemik.

  • Kaji status mental.

Rasional: gelisah mudah terangsang, bingung dan somnolen dapat menunjukkan hipoksia atau penurunan oksigen serebral.

  • Tinggikan kepala dan dorong sering mengubah posisi, nafas dalam dan batuk efektif.
    Rasional: tindakan ini meningkat inspirasi maksimal, meningkat pengeluaran secret untuk memperbaiki ventilasi tak efektif.
  • Kolaborasi
    Berikan terapi oksigen dengan benar misal dengan nasal plong master, master venturi.
    Rasional: mempertahankan PaO2 di atas 60 mmHg. O2 diberikan dengan metode yang memberikan pengiriman tepat dalam toleransi pernapasan.

C. Dx 3 : Resiko tinggi terhadap infeksi (penyebaran) berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder (adanya infeksi penekanan imun), penyakit kronis, malnutrisi.

Tujuan: Infeksi tidak terjadi

Kriteria hasil :

  • Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat
  • Penularan penyakit ke orang lain tidak ada

Intervensi:

  • Pantau tanda vital dengan ketat khususnya selama awal terapi
    Rasional: selama awal periode ini, potensial untuk fatal dapat terjadi.
  • Tunjukkan teknik mencuci tangan yang baik
    Rasional: efektif berarti menurun penyebaran/perubahan infeksi.
  • Batasi pengunjung sesuai indikasi.
    Rasional: menurunkan penularan terhadap patogen infeksi lain
  • Potong keseimbangan istirahat adekuat dengan aktivitas sedang. Tingkatkan masukan nutrisi adekuat.
    Rasional: memudahkan proses penyembuhan dan meningkatkan tekanan alamiah
  • Kolaborasi untuk pemberian antibiotic.
    Berikan antimikrobial sesuai indikasi dengan hasil kultur sputum/darah misal penicillin, eritromisin, tetrasiklin, amikalin, sepalosporin, amantadin.
    Rasional: Obat digunakan untuk membunuh kebanyakan microbial pulmonia.

D. Dx 4 :Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakseimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen ditandai dengan:

  • Dispnea
  • Takikardia
  • Sianosis

Tujuan :  Intoleransi aktivitas teratasi

Kriteria hasil :

  • Nafas normal
  • Sianosis tidak terjadi
  • Irama jantung normal

Intervensi

  • Evaluasi respon pasien terhadap aktivitas

Rasional: merupakan kemampuan, kebutuhan pasien dan memudahkan pilihan interan.

  • Berikan lingkungan tenang dan batasi pengunjung selama fase akut sesuai indikasi.
    Rasional: menurunkan stress dan rangsangan berlebihan, meningkatkan istirahat.
  • Bantu pasien memilih posisi nyaman untuk istirahat atau tidur.
    Rasional: pasien mungkin nyaman dengan kepala tinggi, tidur di kursi.
  • Bantu aktivitas perawatan diri yang diperlukan
    Rasional: meminimalkan kelelahan dan membantu keseimbangan suplai dan kebutuhan oksigen.

 

E. Dx 5 : Nyeri berhubungan dengan inflamasi parenkim varul, batuk menetap ditandai dengan:

  • Nyeri dada
  • Sakit kepala
  • Gelisah

Tujuan : Nyeri dapat teratasi

Kriteria hasil :

1)        Nyeri dada teratasi

2)        Sakit kepala terkontrol

3)        Tampak tenang

Intervensi:

  • Tentukan karakteristik nyeri, misal kejan, konstan ditusuk.
    Rasional: nyeri dada biasanya ada dalam seberapa derajat pada pneumonia, juga dapat timbul karena pneumonia seperti perikarditis dan endokarditis.
  • Pantau tanda vital

Rasional: Perubahan FC jantung/TD menu bawa Pc mengalami nyeri, khusus bila alas an lain tanda perubahan tanda vital telah terlihat.

  • Berikan tindakan nyaman pijatan punggung, perubahan posisi, musik tenang/berbincangan.
    Rasional: tindakan non analgesik diberikan dengan sentuhan lembut dapat menghilangkan ketidaknyamanan dan memperbesar efek derajat analgesik.
  • Aturkan dan bantu pasien dalam teknik menekan dada selama episode batuk.
    Rasional: alat untuk mengontrol ketidaknyamanan dada sementara meningkat keefektifan upaya batuk.
  • Kolaborasi : Berikan analgesik dan antitusik sesuai indikasi
    Rasional: obat dapat digunakan untuk menekan batuk non produktif atau menurunkan mukosa berlebihan meningkat kenyamanan istirahat umum.
  1. F.     Dx 6 : Resiko tinggi terhadap nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan peningkatan kebutuhan metabolik sekunder terhadap demam dan proses inflamasi

 Tujuan: Nutrisi  tubuh dapat teratasi

 Kriteria hasil :

  • Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan
  • Pasien mempertahankan meningkat BB

 Intervensi :

  • Identifikasi faktor yang menimbulkan mual/muntah, misalnya: sputum, banyak nyeri.
    Rasional: pilihan intervensi tergantung pada penyebab masalah
  • Jadwalkan atau pernafasan sedikitnya 1 jam sebelum makan.

Rasional: menurun efek manual yang berhubungan dengan penyakit ini

  • Berikan makan porsi kecil dan sering termasuk makanan kering (roti panggang)
    makanan yang menarik oleh pasien.

Rasional: tindakan ini dapat meningkat masukan meskipun nafsu makan mungkin lambat untuk kembali.

  • Evaluasi status nutrisi umum, ukur berat badan dasar.

Rasional: adanya kondisi kronis keterbatasan ruangan dapat menimbulkan malnutrisi, rendahnya tahanan terhadap inflamasi/lambatnya respon terhadap terapi.

  1. G.    Dx 7 : Resiko tinggi terhadap kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan cairan berlebihan, demam, berkeringat banyak, nafas mulut, penurunan masukan oral.

Tujuan : Kekurangan volume cairan tidak terjadi

Kriteria hasil :

Pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.

Intervensi :

  • Kaji perubahan tanda vital contoh peningkatan suhu demam memanjang, takikardia.
    Rasional: peningkatan suhu/memanjangnya demam meningkat laju metabolik dan kehilangan cairan untuk evaporasi.
  • Kaji turgor kulit, kelembapan membran mukosa (bibir, lidah)
    Rasional: indikator langsung keadekuatan volume cairan, meskipun membran mukosa mulut mungkin kering karena nafas mulut dan O2 tambahan.
  • Catat laporan mual/muntah

Rasional: adanya gejala ini menurunkan masukan oral

  • Pantau masukan dan keluaran catat warna, karakter urine. Hitung keseimbangan cairan. Ukur berat badan sesuai indikasi.

Rasional: memberikan informasi tentang keadekuatan volume cairan dan keseluruhan penggantian.

Tekankan cairan sedikit 2400 mL/hari atau sesuai kondisi individual
Rasional: pemenuhan kebutuhan dasar cairan menurunkan resiko dehidrasi.

  • Kolaborasi : Beri obat indikasi misalnya antipiretik, antimitik.

Rasional: berguna menurunkan kehilangan cairan

  • Berikan cairan tambahan IV sesuai keperluan

Rasional: pada adanya penurunan masukan banyak kehilangan
penggunaan dapat memperbaiki/mencegah kekurangan

D.  EVALUASI

  1. Bersihan jalan nafas efektif ditandai dengan :
    1. Batuk teratasi
    2. Nafas normal
    3. Bunyi nafas bersih
    4. Tidak terjadi sianosis
    5. Tidak terjadi gangguan pertukaran gas ditandai dengan :
      1. Tidak nampak sianosis
      2. Nafas normal
      3. Tidak terjadi sesak
      4. Tidak terjadi hipoksia
      5. Klien tampak tenang
      6. Tidak ada resiko terhadap infeksi ditandai dengan :
        1. Waktu perbaikan infeksi/kesembuhan cepat
        2. Penularan penyakit ke orang lain tidak ada
      7. Toleran terhadap  aktivitas sehari-hari ditandai dengan :
        1. Nafas normal
        2. Sianosis tidak terjadi
        3. Irama jantung normal
      8. Nyeri (akut) teratasi ditandai dengan :
        1. Nyeri dada teratasi
        2. Sakit kepala terkontrol
        3. Tampak tenang
      9. Nutrisi adekuat ditandai dengan :
        1. Pasien menunjukkan peningkatan nafsu makan.
        2. Pasien mempertahankan meningkat BB.
      10. Tidak ada tanda kurang volume cairan ditandai dengan : pasien menunjukkan keseimbangan cairan dibuktikan dengan parameter individual yang tepat misalnya membran mukosa lembab, turgor kulit baik, tanda vital stabil.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Gabs, G. 2010. Askep Anak Pneumonia. (http://gardengab.com/, diakses tanggal 24 November 2012).

KTW. 2010. Suplementasi Zinc Menurunkan Kejadian Pneumonia Pada Anak-anak.

Mansjoer, Arif., Suprohaita, Wardhani, W.A., dan Setiowulan, wiwiek │Eds.│. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Auscalapius.

Prasetya, Danzka. Askep Pneumonia. (http://wildanprasetya.blog.com/

Carpenito, Lynda Juall (2000), Diagnosa Keperawatan edisi 8 , EGC , Jakarta

Perawatan Medikal Bedah, Ikatan Alumni Pendidikan Keperawatan Padjadjaran, Bandung

Luckmann’s Sorensen (1996),

Baughman C Diane.2000,Keperawatan medical bedah, EGC, Jakrta

Doenges E Mailyn.1999, Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk perencanaandan pendokumentasian perawatan pasien. Ed3. EGC, Jakarta

Nanda. (2007). Diagnose Nanda: Nic dan Noc.

Nursalam. (2001). Proses dan Dokumentasi Keperawatan: Konsep dan Penyakit. Salemba

Medika. Jakarta.

Nursalam. (2005). Asuhan Keperawatan Pada Bayi dan Anak (untuk perawat dan bidan).

Salemba Medika. Jakarta.                                                                              

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN GLAUKOMA

Standard

Image

 

BAB I

PENDAHULUAN 

  1. A.      LATAR BELAKANG

Glaukoma adalah penyakit yang terjadi akibat gangguan tekanan intraokuler pada mata. Oleh karena itu glaukoma dapat mengganggu penglihatan yang perlu diwaspadai. Tidak hanya itu, glaucoma juga dapat membawa kita kepada kebutaan. Contohnya pada kasus glaucoma yang terjadi di Amerika Serikat. Disana glaucoma beresiko 12% pada kebutan(Luckman & Sorensen.1980).

Menurut data dari WHO pada tahun 2002, penyebab kebutaan paling utama di dunia adalah katarak (47,8%), galukoma (12,3%), uveitis (10,2%), age- related mucular degeneration (AMD) (8,7%), trakhoma (3,6%), corneal apacity (5,1%), dan diabetic retinopathy (4,8%). Namun sesungguhnya hal ini bisa di cegah dengan pemeriksaan tonometri rutin. Sehingga tidak sampai terjadi hal fatal seperti kebutaan. Jika seseorang tidak pernah melakukan pemeriksaan tonometri, sedang ia baru mendapati dirinya glaukoma yang sudah fatal, maka tindakan yang bisa di ambil adalah operasi. Mendengar kata ini jelas kita sudah merinding sebelum melakukannya. Apalagi hasil dari opersi belum tentu sesuai dengan harapan kita. Misal, opersi tersebut berujung pada kebutaan seperti contoh di atas. Oleh karena itu, kita perlu malakukan pengukuran tonometri rutin dan juga memahami proses keparawatan pada klien glaukoma. Supaya sebagai perawat tentunya kita dapat menegakkan asuhan keperawatan yang benar.

B.   TUJUAN

1.    Tujuan umum

Mahasiswa dapat memahami kelainan penglihatan pada pasien glaukoma

2.    Tujuan Khusus

a.    Mahasiswa mampu memahami pengertian glaukoma

b.    Mahasiswa mampu memahami etiologi glaukoma

c.    Mahasiwa mampu memahami manifestasi klinik glaukoma

d.    Mahasiswa mampu memahami klasifikasi glaukoma

e.    Mahasiswa mampu memahami penatalaksanaan glaukoma

f.     Mahasiswa mampu memahami pengkajian glaukoma

g.    Mahasiswa mampu memahami diagnosa berhubungan dengan analisa data glaukoma

h.    Mahasiswa mampu memahami intervensi dari setiap diagnosa

i.      Mahasiswa mampu memahami evaluasi glaukoma

3.    MANFAAT

a.    Instansi

Dapat digunakan sebagai sumber informasi bagi instansi dalam meningkatkan mutu    pendidikan pada masa yang akan datang

b.    Klien dan Keluarga

Klien dan keluarga diberi penjelasan tentang pentingnya pengobatan dan perawatan

untuk mencapai penyembuhan

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. I.            TINJAUAN TEORITIS

 

A.   DEFINISI

Glaukoma berasal dari bahasa Yunani: Glaukos yang berarti hijau kebiruan yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata, atropi papil saraf optik dan menciutnya lapang pandang.

Glaukoma adalah penyakit mata  yang menyebabkan proses hilangnya pengelihatan yang disebabkan oleh peningkatan tekanan cairan didalam mata, karena gangguan makanisme pengeluaran cairan mata dan kelainan syaraf mata. Jika tidak ditangani dengan segera dapat menyebabkan kerusakan retina dan resiko kebutaan total.

  1. B.       ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGI

Ada beberapa sebab dan faktor yang beresiko terhadap terjadinya glaukoma. Diantaranya adalah:

  1. 1.      Umur

Risiko glaukoma bertambah tinggi dengan bertambahnya usia. Terdapat 2% dari populasi usia 40 tahun yang terkena glaukoma. Angka ini akan bertambah dengan bertambahnya usia.

  1. 2.      Riwayat anggota keluarga yang terkena glaukoma

Untuk glaukoma jenis tertentu, anggota keluarga penderita glaukoma mempunyai resiko 6 kali lebih besar untuk terkena glaukoma. Resiko terbesar adalah kakak-beradik kemudian hubungan orang tua dan anak-anak.

  1. 3.      Tekanan bola mata

Tekanan bola mata diatas 21 mmHg berisiko tinggi terkena glaukoma. Meskipun untuk sebagian individu, tekanan bola mata yang lebih rendah sudah dapat merusak saraf optik. Untuk mengukur tekanan bola mata dapat dilakukan dirumah sakit mata dan/atau dokter spesialis mata. Obat-obatan

  1. 4.      Pemakai steroid secara rutin

Pemakai obat tetes mata yang mengandung steroid yang tidak dikontrol oleh dokter, obat inhaler untuk penderita asma, obat steroid untuk radang sendi dan pemakai obat yang memakai steroid secara rutin lainnya. Bila anda mengetahui bahwa anda pemakai obat-obatan steroid secara rutin, sangat dianjurkan memeriksakan diri anda ke dokter spesialis mata untuk pendeteksian glaukoma.

  1. Riwayat trauma (luka kecelakaan) pada mata
  2. Penyakit lain

Riwayat penyakit diabetes (kencing manis), hipertensi dan migren.(Anonim,2010)

Aqueous diproduksi oleh epitel tidak berpigmen dari prosesus siliaris, yang merupakan bagian anterior dari badan siliar. Aqueous humor kemudian mengalir melalui pupil ke dalam kamera okuli anterior, memberikan nutrisi kepada lensa, iris dan kornea. Drainase aqueous melalui sudut kamera anterior yang mengandung jaringan trabekular dan kanal Schlemm dan menuju jaringan vena episklera. (Barbara, 1999)] .Perjalanan aliran aqueous humor 80-90% melalui jaringan trabekular, namun terdapat 10% melalui ciliary body face, yang disebut jalur uveoskleral.

Berdasarkan fisiologi dari sekresi dan ekskresi cairan aqueous, maka terdapat tiga faktor utama yang berperan dalam meningkatnya tekanan intraokular, antara lain:

  1. Kecepatan produksi aqueous humor oleh badan siliar
  2. Resistensi aliran aqueous humor melalui jaringan trabekular dan kanal Schlemm
  3. Tekanan vena episklera

Tekanan intraokular normal yang secara umum diterima adalah 10-21 mmHg.

C.   MANIFESTASI KLINIK

1.    Keluhan:

a.    penglihatan kabur  mendadak

b.    nyeri hebat

c.    mual                                                  

d.    muntah

e.    melihat halo (pelangi disekitar objek)

2.    Pemeriksaan Fisik:

a.    Visus sangat menurun

b.    Mata merah

c.    Kornea suram

d.    Rincian iris tidak tampak

e.    Pupil sedikit melebar, tidak bereaksi terhadap sinar

f.     Diskus optikus terlihat merah dan bengkak

Yang mengkhawatirkan, glaukoma sering kali timbul tanpa gejala sampai pada fase terakhir, kecuali glaukoma jenis akut (tekanan bola mata tiba-tiba meninggi sehingga mata terasa sakit sekali). Karena itu deteksi dini glaukoma sangat penting, konsultasikan ke dokter spesialis mata anda mengenai glaukoma untuk pendeteksian dini.

D.   KLASIFIKASI

1.    Glaukoma Primer

       Glaukoma jenis ini merupakan bentuk yang paling sering terjadi, struktur yang terlibat dalam sirkulasi  dan atau reabsorbsi akuos humor mengalami perubahan langsung.

a.    Glaukoma Sudut Terbuka

Glaukoma sudut terbuka/glaukoma kronik/glaukoma simpleks merupakan bentuk glaukoma primer paling sering yang lebih tersembunyi dan membahayakan serta paling sering terjadi (kurang lebih 90% dari klien glaukoma).

Diduga glaukoma ini diturunkan secara dominan/resesif pada 50% penderita. Keadaan ini terjadi pada klien usia lanjut (>40 tahun) dan perubahan karena usia lanjut memegang peranan penting dalam proses sklerosa badan silier dan jaringan trebekel,

b.    Glaukoma Sudut Tertutup

Glaukoma sudut tertutup/glaucoma acute, mekanisme dasar yang terlibat dalam patofisiologi glaukoma ini adalah menyempitnya sudut dan perubahan letak iris yang terlalu ke depan. Perubahan letak iris menyebabkan kornea menyempit atau nmenutup sudut ruangan yang akan menghalangi aliran keluar akueos humor. TIO meningkat dengan cepat, kadang-kadang mencapai tekanan 50-70 mmHg ( dewit, 1998).

Tanda dan gejala meliputi nyeri hebat di dalam dan sekitar mata., timbulnya halo di sekitar cahaya, pndangan kabur. Klien kadang mengeluhkan keluhan umum seperti sakit kepala, mual, muntah, kedinginan, demam. Peningkatan TIO menyebabkan nyeri yang melalui saraf kornea menjalar ke pelipis, oksiput dan rahang melaui cabang-cabang nervus trigeminus. Iritasi

2.    Glaukoma Sekunder

       Glaukoma sekunder adalah glaucoma yang terjadi akibat penyakit mata lain yang menyebabkan penyempitan sudut atau peningkatan volume cairan di dalam mata. Kondisi ini secara tidak langsung mengganggu aktivitas struktur yang terlibat dalam sirkulasi dan atau reabsorbsi akueos humor. Gangguan ini terjadi akibat:

·         Perubahan lensa, dislokasi lensa , terlepasnya kapsul lensa pada katarak

·         Perubahan uvea, uveitis, neovaskularisasi iris, melanoma dari jaringan uvea

·         Trauma, robeknya kornea/limbus diserai prolaps iris

3.    Glaukoma Congenital

Glaukoma ini terjadi akibat kegagalan jaringan mesodermal  memfungsikan trabekular. Kondisi ini disebabkan oleh ciri autosom resesif dan biasanya bilateral.

  1. E.     PENTALAKSANAAN

1.    Terapi medikamentosa

Tujuannya adalah menurunkan TIO (Tekanan Intra Okuler) terutama dengan mengguakan obat sistemik (obat yang mempengaruhi tubuh

a.    Obat Sistemik

1)    Asetazolamida, obat yang menghambat enzim karbonik anhidrase yang akan mengakibatkan diuresis dan menurunkan sekresi cairan mata sebanyak 60%, menurunkan tekanan bola mata. Pada permulaan pemberian akan terjadi hipokalemia sementara. Dapat memberikan efek samping hilangnya kalium tubuh parastesi, anoreksia, diarea, hipokalemia, batu ginjal dan miopia sementara.

2)    Agen hiperosmotik. Macam obat yang tersedia dalam bentuk obat minum adalah glycerol dan isosorbide sedangkan dalam bentuk intravena adalah manitol. Obat ini diberikan jika TIO sangat tinggi atau ketika acetazolamide sudah tidak efektif lagi.

b.    Obat Tetes Mata Lokal

1)    Penyekat beta. Macam obat yang tersedia adalah timolol, betaxolol, levobunolol, carteolol, dan metipranolol. Digunakan 2x sehari, berguna untuk menurunkan TIO.

2)    Steroid (prednison). Digunakan 4x sehari, berguna sebagai dekongestan mata. Diberikan sekitar 30-40 menit setelah terapi sistemik.

2.    Terapi Bedah

a.    Iridektomi perifer. Digunakan untuk membuat saluran dari bilik mata belakang dan 

       depan karena telah terdapat hambatan dalam pengaliran humor akueus.

b.    Trabekulotomi (Bedah drainase). Dilakukan jika sudut yang tertutup lebih dari 50% 

        atau gagal dengan iridektomi.

 

  1. F.     WOC

DM

Kortikosteroid jangka panjang

Miopia

Trauma mata

                       Obstruksi jaringan                                      Peningkatan tekanan

                                          Trabekuler                                                         Vitreus

 

                  Hambatan pengaliran                                 Pergerakan iris kedepan

                  Cairan humor aqueous

Gangguan persepsi sensori penglihatan

Anxietas

Kurang pengetahuan

Nyeri

 

                                              TIO meningkat            Glaukoma             TIO Meningkat

                                              Gangguan saraf optik                                             Tindakan operasi

                                               perubahan penglihatan

                                                      perifer

                                                Kebutaan

  1. II.            ASUHAN KEPERAWATAN SECARA TEORITIS

 

  1. A.      PENGKAJIAN

1.   Aktivitas/Istirahat
Perubahan aktivitas biasanya/hobi sehubungan dengan gangguan penglihatan

2.   Makanan/Cairan
Mual, muntah (glaukoma akut)

3.   Neurosensori
Gangguan penglihatan (kabur/tidak jelas), sinar terang menyebabkan silau dengan kehilangan bertahap penglihatan perifer, kesulitan memfokuskan kerja dengan dekat/merasa di ruang gelap (katarak).
Penglihatan berawan/kabur, tampak lingkaran cahaya/pelangi sekitar sinar

4.   Nyeri/Kenyamanan:
Ketidaknyamanan ringan/mata berair (glaukoma kronis)
Nyeri tiba-tiba/berat menetap atau tekanan pada dan sekitar mata, sakit kepala (glaukoma akut).

B.   DIAGNOSA KEPERAWATAN

1.   Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah

2.   Gangguan persepsi sensori penglihatan b/d gangguan penerimaan, gangguan status organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.

3.   Ansietas b/d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup

4.   Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b/d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi ditandai dengan pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang dapat dicegah

C.   INTERVENSI

1.    Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO) yang ditandai dengan mual dan muntah

      Tujuan: nyeri hilang atau berkurang

      Kriteria Hasil:

a.    Pasien mendemonstrasikan pengetahuan akan penilaian nyeri

b.    Pasien mengatakan nyeri berkurang/hilang

c.    Ekspresi wajah rileks

Intervensi:

a.    Kaji tipe intensitas dan lokasi nyeri

b.    Kaji tingkatan nyeri untuk menentukan dosis analgesic

c.    Anjurkan istirahat ditempat tidur dalam ruangan yang tenang

d.    Atur sikap fowler 30° atau dalam posisi nyaman.

e.    Hindari mual, muntah karena ini akan meningkatkan TIO

f.     Alihkan perhatian pada hal-hal yang menyenangkan

g.    Berikan analgesi sesuai anjuran

2.   Gangguan persepsi sensori penglihatan b/d gangguan penerimaan, gangguan status organ ditandai dengan kehilangan lapang pandang progresif.

Tujuan:Penggunaan penglihatan yang optimal
Kriteria Hasil:

a.   Pasien akan berpartisipasi dalam program pengobatan

b.   Pasien akan mempertahankan lapang ketajaman penglihatan tanpa kehilangan lebih lanjut

Intervensi:

a.   Pastikan derajat/tipe kehilangan penglihatan

b.   Dorong mengekspresikan perasaan tentang kehilangan / kemungkinan kehilangan penglihatan

c.   Tunjukkan pemberian tetes mata, contoh menghitung tetesan, menikuti jadwal, tidak salah dosis

d.   Lakukan tindakan untuk membantu pasien menanganiketerbatasan penglihatan, contoh, kurangi kekacauan,atur perabot, ingatkan memutar kepala ke subjek yang terlihat; perbaiki sinar suram dan masalah penglihatan malam

e.   Kolaborasi obat sesuai dengan indikasi

3.   Ansietas b/d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan ditandai dengan ketakutan, ragu-ragu, menyatakan masalah tentang perubahan kejadian hidup

Tujuan: Cemas hilang atau berkurang
Kriteria Hasil:

a.    Pasien tampak rileks dan melaporkan ansitas menurun sampai tingkat dapat diatasi

b.    Pasien menunjukkan ketrampilan pemecahan masalah

c.     Pasien menggunakan sumber secara efektif
Intervensi:

a.  Kaji tingkat ansitas, derajat pengalaman nyeri/timbul nya gejala tiba-tiba dan

     pengetahuan kondisi saat ini

b.  Berikan informasi yang akurat dan jujur. Diskusikan kemungkinan bahwa pengawasan    

      dan pengobatan mencegah kehilangan penglihatan tambahan

c.   Dorong pasien untuk mengakui masalah dan mengekspresikan perasaan

d.   Identifikasi sumber/orang yang menolong

4.    Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b/d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi ditandai dengan pertanyaan, pernyataan salah persepsi, tak akurat mengikuti instruksi, terjadi komplikasi yang dapat dicegah

Tujuan: Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya
Kriteria Hasil:

a.    pasien menyatakan pemahaman kondisi, prognosis, dan pengobatan

b.    Mengidentifikasi hubungan antar gejala/tanda dengan proses penyakit

c.    Melakukan prosedur dengan benar dan menjelaskan alasan tindakan

Intervensi

a.    Diskusikan perlunya menggunakan identifikasi

b.    Tunjukkan tehnik yang benar pemberian tetes mata

c.    Izinkan pasien mengulang tindakan

d.    Kaji pentingnya mempertahankan jadwal obat, contoh tetes mata

e.    Diskusikan obat yang harus dihindari, contoh midriatik, kelebihan pemakaian steroid topical

D.   EVALUASI

1.    Nyeri hilang atau berkurang

2.    Penggunaan penglihatan yang optimal

3.    Cemas hilang atau berkurang

4.    Klien mengetahui tentang kondisi,prognosis dan pengobatannya

BAB IV

PENUTUP

 

 

  1. A.      KESIMPULAN

Glaukoma berasal dari bahasa Yunani: Glaukos yang berarti hijau kebiruan yang memberikan kesan warna tersebut pada pupil penderita ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata, atropi papil saraf optik dan menciutnya lapang pandang

Gangguan pada mekanisme pengeluaran cairan didalam mata yang dapat menyebabkan sumbatan akibat penyempitan pada saraf mata, dan akar iris atau juga karena faktor keturunan. Manifestasi klinik pada glaucoma adalah penglihatan kabur  mendadak, nyeri hebat, mual, muntah dan melihat halo (pelangi disekitar objek)

Glaukoma terbagi menjadi tipe primer, sekunder dan kongenital. Tipe primer terbagi menjadi glaukoma sudut terbuka dan glaukoma sudut tertutup. Penatalaksanaan pada glaukoma adalah terapi medikamentosa, obat tetes mata lokal dan terapi bedah.

Diagnosa keperawatan pada glaukoma adalah

a.   Nyeri b/d peningkatan tekanan intra okuler (TIO)

b.   Gangguan persepsi sensori penglihatan b/d gangguan penerimaan, gangguan status organ

c.   Ansietas b/d faktor fisilogis, perubahan status kesehatan, adanya nyeri, kemungkinan/kenyataan kehilangan penglihatan

d.   Kurang pengetahuan (kebutuhan belajar) tentang kondisi, prognosis, dan pengobatan b/d kurang terpajan/tak mengenal sumber, kurang mengingat, salah interpretasi

B.   SARAN DAN KRITIK

a.    Untuk instansi

Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan

b.    Untuk klien dan keluarga

Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai, oleh sebab itu perlu adanya penjelasan pada klien dan keluarga mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN LABIRINITIS

Standard

 

Image

 

KATA PENGANTAR

 

Puji syukur kita ucapkan kepada Allah SWT, berkat rahmat dan karunia_Nya kami dapat menyelesaikan tugas makalah Keperawatan Medikal Bedah 1 ( KMB 1 ) ini.

Kami mengucapkan terima kasih kepada teman-teman dan keluarga yang membantu memberikan semangat dan dorongan demi terwujudnya karya ini, yaitu makalah Keperawatan Medical Bedah 1 (KMB 1)  ini.

Kami juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pembimbing yaitu Ns. Rizka Austriani, S.Kep yang telah  membantu kami, sehingga kami merasa lebih ringan dan lebih mudah menulis makalah ini. Atas bimbingan yang telah berikan, kami juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang juga membantu kami dalam penyelesaian makalah ini.

Kami menyadari bahwa teknik penyusunan dan materi yang kami sajikan masih kurang sempurna.Untuk itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang mendukung dengan tujuan untuk menyempurnakan makalah ini.

Dan kami berharap, semoga makalah ini dapat di manfaatkan sebaik mungkin, baik itu bagi diri sendiri maupun yang membaca makalah ini.

 

                                                                                       

 

 

                                                                                                           

 

                                                                                                            Padang, 21 November 2012

                                                                                                                       

                                                                                                                        Penulis

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. I.       LATAR BELAKANG

Labirinitis pada dasarnya dikenal dua macam dan dengan gejala yang berbeda, labirinitis mengenai seluruh bagian labirin disebut dengan labirinitis umum ( general ), dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf berat, kemudian yang mengenai hanya sebagian atau terbatass disebut labinitis terbatas ( labirinitis sirkumskripta) menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saja.

Deperkirakan penyebab albirinitis yang saling sering di absorbsi produk bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin, dibentuk ringan labirinitis srcara selalu terjadi pada operasi telinga pada misalnya pada operasi fenestrasi, terjadi singkat dan biasnya tidak menyebabkan gangugan pendengaran, kelainan patologik seperti inflamasi non porulen.

 

  1. II.    TUJUAN
  2. Tujuan umum

Untuk mendapatkan gambaran asuhan keperawatan pada system pendenggaran sehingga apabila menemui pasien dengan penyakit labirinitis ini, kita bias melakukan  dan memberikan asuhan keperawatan padanya.

  1. Tujuan kusus

Setelah melakukan penelitian dan pembelajaran tentang kemasukan benda asing pada telinga. Maka mahasiswa/i diharapkan mampu :

ü  Mampu Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan labirinitis pada telinga.

ü  Mampu menentukan diagnosa keperawatan pada klien dengan labirinitis pada telinga.

ü  Mampu Melakukan intervensi keperawatan pada klien dengan labirinitis pada telinga.

ü  Mampu Melakukan implementasi keperawatan pada klien dengan labirinitis pada telinga.

ü  Mampu menentukan evaluasi keperawatan pada klien dengan labirinitis pada telinga.

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

  1. A.    DEFINISI

Labirinitis adalah infeksi pada telinga dalam (labirin) yang disebabkan oleh bakteri atau virus.

Labirinitis adalah radang pada telinga dalam (labirin). Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum atau difus dengan gejala vertigo berat dan tuli saraf yang berat, sedangkan labirinitis yang terbatas atau labirinitis sirkumskripta menyebabkan terjadinya vertigo saja atau tuli saraf saja.

Labirinitis merupakan komplikasi intratemporal yang paling sering dari radang telinga tengah.

Labirinitis adalah infeksi pada teling dalam, yang disebabkan oleh bakteri atau virus, yang mana dapat terjadi karena komplikasi otitis media, meningitis, ISP dan setelah infeksi telinga tengah.

Labirinitis dapat disebabkan oleh virus, bacterial,zat-zat toksik dan obat-obatan. Labirinitis yang di sebabkan oleh bakterial terdapat dalam dua bentuk labirinitis, yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difusi.


B.  ETIOLOGI

Infeksi bakteri yang disebabkan otitis media, atau kolesteatoma, dapat memasuki telinga tengah dengan menembus membrane jendela bulat atau oval. Labirintitis viral merupakan diagnosis medis yang sering, namun hanya sedikit yang diketahui mengenai kelainan ini, yang mempengaruhi baik keseimbangan maupun pendengaran. Virus penyebab yang paling sering teridentifikasi adalah gondongan, rubella, rubeola, dan influenza.

Secara etiologi labirintis terjadi karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Terdapat 2 bentuk labirinitis. Yaitu labiribnitis serosa dean labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis supuratif kronik difus.

Pada labirinitis serosa taksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirin supuratif dengan invasi sel radang ke labirin. Sehingga terjadi kerusakan yang lereversibel. Seperti fibrosa dan osifikasi. Pada kedua jenis labirinitis tersebut operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang – kadang diperlukan juga draifase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat terutama ditujukan pada pengobatan otitis media kronik.

Labirinitis serosa difus sering kali terjadi sekunder dari labirinitis sirkumskrifta oleh pada terjadi primer pada otitis media akut. Masuknya toksin oleh bakteri melalui tingkap bulat, tingkap lontong untuk melalui erosi tulang labirin. Infeksi tersebut mencapai endosteum melalui seluruh darah.
Diperkirakan penyebab labirinitis yang paling sering absorbsi produk bakteri di telinga dan mastoid ke dalam labirin, dibentuk ringan labirinitis serosa selalu terjadi pada operasi telinga dalam misalnya pada operasi fenestrasi, terjadi singkat dan biasanya tidak menyebabkan gangguan pendengaran, kelainan patologiknya seperti inflamasi non purulen labirin.

 

 

C. KLASIFIKASI

  1. Labirinitis yang mengenai seluruh bagian labirin, disebut labirinitis umum ( general ), dengan gejala fertigo berat dan tuli saraf berat, sedangkan labirinitis yang terbatas ( labirinitis sirkumskripta ) menyebabkan terjadinya vertigo saja / tuli saraf saja.
  2. Labirinitis terjadinya oleh karena penyebaran infeksi ke ruang perlimfa. Terdapat dua bentuk labirinitis yaitu labirinitis serosa dan labirinitis supuratif. Labirinitis serosa dapat berbentuk labirinitis serosa difus dan labirinitis serosa sirkumskripta. Labirinitis supuratif dibagi dalam bentuk labirinitis supuratif akut difus dan labirinitis supuratif kronik difus.
  3. Labirinitis serosa toksin menyebabkan disfungsi labirin tanpa invasi sel radang, sedangkan pada labirinitis supuratif, sel radang menginvasi labirin, sehingga terjadi kerusakan yang ireversibel, seperti fibrosis dan osifikasi.

 

Pada kedua bentuk labirinitis itu operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dari telinga tengah. Kadang – kadang diperlukan juga drenase nanah dari labirin untuk mencegah terjadinya meningitis. Pemberian antibiotika yang adekuat terutama ditujukan kepada pengobatan otitis media kronik dengan atau tanpa kolesteatoma.


D.   MANIFESTASI KLINIS

1)      vertigo yang melumpuhkan

2)      mual dan muntah

3)      kehilangan pendengaran derajat tertentu

4)      tinnitus.

Episode pertama biasanya serangan mendadak paling berat, yang biasanya terjadi selama periode beberapa minggu sampai bulan, yang lebih ringan.

Pengobatan untuk labirintitis balterial meliputi terapi antibiotika intravena, penggantian cairan, dan pemberian supresan vestibuler maupun obat anti muntah. Pengobatan labirintitis viral adalah sintomatik dengan menggunakan obatantimuntah dan antivertigo.

Gejala dan tanda :

Terjadi tuli total disisi yang sakit, vertigo ringan nistagmus spontan biasanya kea rah telinga yang sehat dapat menetap sampai beberapa bulan atau sampai sisa labirin yang berfungsi dapat menkompensasinya. Tes kalori tidak menimbulkan respons disisi yang sakit dan tes fistulapur negatif walaupun dapat fistula

E. PATOFISIOLOGI

Kira – kira akhir minggu setelah serangan akut telinga dalam hampir seluruhnya terisi untuk jaringan gramulasi, beberapa area infeksi tetap ada. Jaringan gramulasi secara bertahap berubah menjadi jaringan ikat dengan permulaan. Pembentukan tulang baru dapat mengisi penuh ruangan labirin dalam 6 bulan sampai beberapa tahun pada 50 % kasus.

 

F. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Fistula dilabirin dapat diketahui dengan testula, yaitu dengan memberikan tekanan udara positif ataupun nrgatif ke liang telinga melalui otoskop siesel dengan corong telinga yang kedap atau balon karet dengan bentuk elips pada ujungnya yang di masukan ke dalam liang telinga. Balon karet di pencet dan udara di dalamnya akana menyebabkan perubahan tekanan udara di liang telinga. Bila fistula yang terjadi masih paten maka akan terjadi kompresi dan ekspansi labirin membrane. Tes fistula positif akan menimbulkan ristamus atau vertigo. Tes fistula bisa negatif, bila fistulanya bisa tertutup oleh jaringan granulasi atau bila labirin sudah mati atau paresis kanal.

Pemeriksaan radiologik tomografi atau CT Scan yang baik kadang – kadang dapat memperlihatkan fistula labirin, yang biasanya ditemukan dikanalis semisirkularis horizontal.
Pada fistula labirin / labirintis, operasi harus segera dilakukan untuk menghilangkan infeksi dan menutup fistula, sehingga fungsi telinga dalam dapat pulih kembali. Tindakan bedah harus adekuat untuk mengontrol penyakit primer. Matriks kolesteatom dan jaringan granulasi harus diangkat dari fistula sampai bersih dan didaerah tersebut harus segera ditutup dengan jaringan ikat / sekeping tulang / tulang rawan.

G. PENATALAKSANAAN

Terapi local harus ditujukan kesetiap infeksi yang mungkin ada, diagnosa bedah untuk eksenterasi labirin tidak diindikasikan, kecuali suatu focus dilabirin untuk daerah perilabirin telah menjalar untuk dicurigai menyebar ke struktur intrakronial dan tidak memberi respons terhadap terapi antibiotika bila dicurigai ada focus infeksi di labirin atau di ospretosus dapat dilakukan drerase labirin dengan salah satu operasi labirin setiap skuestrum yang lepas harus dibuang, harus dihindari terjadinya trauma NUA. Bila saraf fosial lumpuh, maka harus dilakukan dengan kompresi saraf tersebut. Bila dilakukan operasi tulang temporal maka harus diberikan antibiotika sebelum dan sesudah operasi.

  1. H.  KOMPLIKASI

1.Tuli total

2.meningitis.

 

  1. I.       W O C

                                                                  laringitis

 

Akibat dari komplikasi maningitis                                                       akibat dari otitismedia /

                                                                                                                              kolestateoma

                                                          Infeksi berkembang

 

 

Mengores telinga pendengaran                                                                 bakteri masuk ke telinga tengah

Masuk ke kanalis aiditiorus                                                     menembus jendela bulat/ oval

 

 

Menggesek pada stuktur  membran

Manifestasinya : vertigo, pendengaran berkurang, pendengaran merasa tidak seimbang

BAB III

ASKEP TEORITIS

  1. A.    PENGKAJIAN
  2. identitas klien
  3. riwayat kesehatan
  • keluhan utama       :klien merasa pendengarannya kurang dan sering pusing

Klien mengeluh nyeri pada telinga kanan

  • riwayat kesehatan sekarang          : Klien merasakan mual, muntah, vertigo
  • riwayatkesehatan keluarga            : Penyakit ini tidak diturunkan, melainkan   disebabkan oleh virus danbakteri.
  • Riwayat kesehatan dahulu            : klien tidak ada menderita penyakit ini sebelunnya
  1. Tanda-tanda vital
  • Nadi                                  :  59x/i
  • Td                                      : 100/90 mmhg
  • Pernafasan                         : 16x/i
  • Suhu                                  : 36℃
  1. Pemeriksaan fisik
  • Rambut     : rambut klien terlihat bersih dan tidak rontok
  • Leher         : tidak ada pembesaran kelenjar limfe
  • Telinga      : Saat pemeriksaan telinga menggunakan otoskop salurantelinga terlihat memerah, saat perawat berbicara di dekatklien, klien hanya diam saja, menandakan bahwa fungsipendengaran klien kurang baik. Saat di palpasi terasasakit pada daun telinga. Kaji vertigo yang meliputiriwayat, awitan, gambaran serangan, durasi, frekwensi,dan adanya gejala telinga yang terkait (kehilanganpendengaran, tinnitus, rasa penuh di telinga).
  • Bibir          : bibir tampak kering
  • Mata          : pergerakan mata diluar kehendak.dan conjungtiva pucat
  • Wajah        :wajah klien terlihat pucat
  • Jantung :

Inspeksi: Terlihat iktus cordis pada dada kiri

Palpasi : Tidak dilakukan palpasi

Perkusi : Tidak dilakukan perkusi

Auskultasi : tidak dilakukan

  • Paru

Inspeksi : Bentuk dada simetris kanan dan kiri, RR 59 x/menit

Palpasi : tidak dilakukan

Perkusi: Tidak dilakukan perkusi.

Auskultas: Terdapat bunyi stidor pada paru sinistra dan wheezing pada paru dextra.

  • Abdomen  :

Inspeksi: Tidak ada psikatrik, tidak tampak distensi abdomen

Auskultasi: Tidak dilakukan auskultasi

Palpasi : Tidak dilakukan palpasi

Perkusi : Tidak dilakukan perkusi

  • Genetalia   : Bersih, terpasang kateter
  • Rektal        : Bersih.
  • Ekstremitas

Atas           : Bagian kiri lemah, bagian kanan dapat digerakkan

Bawah       : tidak sianosis

  • Aktivitas   :klien tidak dapat mealkukan aktivitas sehari-hari
  • Pola eiminasi         : klien mengatakan tidak ada bab semenjak sakit dan bak 4x sehari
  • Pola metabolic : berat badan klien turun selama sakit karena klien bisa menghabiskan makanan 1 ½ porsi
  • Riwayat psikologi: klien sangat teganggu dengan keadaanya sekarang dan klien snagat memikirkan mengenai penyakitnya.

 

  1. B.     DIAGNOSA       

1)      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.

2)      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).

3)      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor

4)      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan.(disfagia)

5)      Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.

 

C.  INTERVENSI

1)      Dx : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.

Tujuan :

  • Jalan  nafas kembali normal

Kriteria Hasil

  • Pola napas klien efektif
  • §  Memperlihatkan  kepatenan jalan napas dengan bunyi napas bersih/jelas

Intervensi :

  1. Kaji frekuensi/kedalaman pernapasan catat kemudahan bernafas. Auskultasi bunyi napas. Selidiki kegelisahan,dispea, terjadinya sianosis.

Rasional : Perubahan  pada  pernafasan, penggunaan  otot aksesori pernafasan dan atau adanya ronkhi/mengi diduga ada retensi sekret.

  1. Awasi pasien untuk posisi yang  nyaman, misal : peninggian kepala tempat tidur 30-450.

Rasional : Peninggian kepala tempat tidur mempermudah fungsi pernafasan dengan menggunakan gravitasi, namun pasien dengan infiltrasi tumor ke trakhea akan mencari posisi yang mudah untuk bernafas.

  1. Bimbing pasien untuk nafas dalam dan batuk efekt.

Rasional : Memobilisasi sekret untuk membersihkan jalan napas dan membantu mencegah komplikasi pernafasan.

  1. Kolaborasi berikan ekspektoran, atau analgesik sesuai indikasi

Rasional : untuk memperbaiki aliran udara. Ekspektoran meningkatkan produksi mukosa untuk mengencerkan dan menurunkan viskositas sekret, memudahkan pembuangan.

  1. Awasi AGD

Rasional :  Menentukan intervensi yang lebih spesifik.

 

2)      Dx 2 : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).

Tujuan :

  • §  Kerusakan komunikasi verbal tidak terjadi

kriteria hasil :

  • Pasien/klien mampu mengkomunikasikan kebutuhannya dengan baik.

Intervensi

  1. Kaji kemampuan baca klien.

Rasional : Untuk membuat Perencanaan dan terciptanya cara-cara komunikasi yang baik dan sesuai. Mengembangkan dan meningkatkan komunikasi.

  1. Anjurkan penggunaan komunikasi meliputi kertas dan pensil, papan gambar,    papan tulis, alat    papan komunikasi elektrik atau alat lainnya yang mendukung.

Rasional :Meningkatkan fonasi yang terpengaruh pada pasien dengan ca.laring.

  1. Bantu pasien dengan latihan untuk meningkatkan kualitas suara, nada, dan volume suara.

Rasional : Memberikan metode untuk memanggil dan meminta pertolongan jika diperlukan

  1. Kolaborasi dengan rehabilitasi suara (voice rehabilitation

Rasional : Memberika therapi berbicara/ bersuara sehingga dapat berkomunikasi secara verbal.

 

3)      Dx 3 : Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor

Tujuan :

  • Kebutuhan rasa aman dan nyaman terpenuhi

Kriteria :

  • Melaporkan pengurangan nyeri

Intervensi :

  1. kaji riwayat nyeri, misal : lokasi nyeri, frekuensi, durasi dan intensitas (skala 1-10) dan tindakan penghilangan yang digunakan

rasional : Informasikan memberikan data dasar untuk mengevaluasi kebutuhan/keefektifan intervensi. Catatan : pengalaman nyeri adalah individu atau digabungkan dengan baik respon fisik dan emosional.

  1. Berikan tindakan kenyamanan dasar,misal : reposisi dan aktivitas hiburan.

Rasional : Meningkatkan relaksasi dan membantu memfokuskan kembali perhatian

  1. Bimbing pasien dalam penggunaan keterampilan manajemen nyeri (misal : teknik relaksasi) tertawa, musik dan sentuhan teraupetik.

Rasional : Memungkinkan pasien untuk berpartisipasi secara aktif dan meningkatkan.

  1. Kembangkan rencana manajemen nyeri dengan pasien dan dokter

Rasional : Rencana terorganisir mengembangkan kesempatan untuk kontrol nyeri terutama nyeri kronis, pasien atau orang terdekat harus aktif menjadi partisipasi dalam manajemen nyeri.

  1. Kolaborasi untuk pemberian analgetik. (mis. Morfin, metadon atau campuran narkotik intravena khusus).

Rasioanal : Nyeri adalah komplikasi sering dari kanker, meskipun respon individual berbeda-beda. Catatan : adiksi/ketergantungan obat bukan masalah.

 

4)      Dx 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan.(disfagia)

Tujuan :

  • klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang tidak adekuat

kriteria hasil :

  • Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu, menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau insisi sesuai waktunya

Intervensi :

  1. Timbang BB dan porsi makan.

Rasional : Untuk mengetahui Berat badan pasien.

  1. Pantau masukan makanan setap hari

Rasional : Mengidentifikasi kekuatan /defisiensi nutrisi

  1.  Identifikasi pasien yang mengalami mual/ muntah yang diantisipasi

Rasioanal :  Mual /muntah psikogenik sebelum kemoterapi mulai secara umum tidak berespons terhadap obat anti emetic

  1. Berikan diet nutrisi seimbang (misalnya semikental atau makanan halus) atau makanan selang (contoh makanan dihancurkan atau sediaan yang dijual) sesuai indikasi.

Rasioanl :   macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau batasan faktor tertentu, seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang disediakan pasien.

  1. Kolaborasi : berikan obat-obatan sesuai indikasi. Fenotiazin, mis : Proklorperazin (compazine), tietilperazin (Torecan), anti dopaminergik mis ; metoklorpiamid (regian), dll.

Rasioanal : Kebanyakan anti emetik bekerja untuk mempengaruhi stimulasi pusat muntah sejati dan kemoreseptor mentriger agen zona juga bertindak secara perifer untuk menghambat peristaltik balik

  1. Kolaborasi dengan dokter untuk pemasangan NGT atau infus

Rasioanal  : Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi klien

 

5)      Dx 5 : Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.

Tujuan

  • Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada diri sendiri.

Kriteria hasil

  • menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai bukti dengan partisipasi aktivitas perawatan diri dan dapat  berinteraksi positip dengan orang lain.

Intervensi

  1. Berikan kesempatan pada klien untuk mengekspresikan kecemasannya.

Rasional : Untuk mengungkapkan perasaan klien dan mengurangi kecemasan

  1. Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien, identifikasi persepsi situasi atau harapan yang akan datang.

Rasioanal : Agar klien dapat menerima kenyataan

  1. Catat reaksi emosi, contoh kehilangan, depresi, marah.

Rasional : Untuk mngetahui perubahan emosi klien.

  1. Libatkan orang-orang terdekat seperti orang tua,teman,untuk memberikan support pada klien.

Rasioanal : Untuk memotivasi klien dan mengurangi kecemasan klien

  1. Pendekatan spiritual sesuai dengan agama yang dianut klien.

Rasioanal : Untuk meningkatkan keyakinan pada klien bahwa tuhan akan menyembuhkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    KESIMPULAN

Labirin ( telinga dalam ) mengandung organ pendengaran dan keseimbangan, terletak  pada pars petrosa os temporal. Labirinitis merupakan inflamasi pada telinga dalam yangdisebabkan oleh bakteri atau virus yang biasanya merupakan komplikasi penyakit telinga tengahatau komplikasi infeksi virus dari berbagai penyakit.

Meskipun data epidemiologi definitif masih kurang, labirinitis virus adalah bentuk palingumum dari labirinitis diamati dalam praktek klinis. Prevalensi SNHL diperkirakan 1 kasus dalam 10.000 orang, sampai dengan 40% dari pasien mengeluh vertigo atau dysequilibrium.

Labirinitis dibagi atas labirinitis lokalisata (labirinitis serosa) dan labirinitis difusa (labirinitissupuratif). Keluhan dari penyakit ini berupa gangguan vestibular, vertigo dan gangguan fungsi pendengaran sensorineural hearing loss.

Gejala yang timbul pada labirinitis lokalisata merupakanhasil dari gangguan fungsi vestibular dan gangguan koklea yaitu terjadinya vertigo dan kurang pendengaran derajat ringan hingga menengah secara tiba-tiba. Pada sebagian besar kasus, gejalaini dapat membaik sendiri sejalan dengan waktu dan kerusakan yang terjadi juga bersifat reversible.Labirinitis biasanya sembuh sendiri dalam waktu satu atau beberapa minggu, tergantung pada tingkat keparahan infeksi. Terapi dengan pengawasan yang ketat dan terus menerus untuk mencegah perluasan penyakit ke intrakranial di samping itu dilakukan tindakan drainase dari labirin.

 

  1. B.     SARAN
  2. Untuk instansi

Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan

b.    Untuk klien dan keluarga                                

Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai, oleh sebab itu perlu adanya penjelasan pada klien dan keluarga mengenai manfaat serta pentingnya kesehatan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adams,  Boies Higler. 1997.Buku Ajar Penyakit THT. Jakarta : EGC.Brunner & Suddart. 1996.

 

 Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah edisi 8 vol 1. Jakarta : EGC.Pearce, Evelyn C. 1979.

 

 Anatomi Dan Fisiologi Untuk Para Medis.Jakarta : GramediaPustaka Utama.Price, Sylvia A. 1995.

 

Patofisiologi Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit edis 4.Jakarta : EGC.Soepardi, Efiaty Assyad dkk.

 

Telinga Hidung Tenggorok edisi 3. Jakarta. BalaiPenerbit FKUI.Syaifuddin. 1997.Anatomi Fisiologi untuk siswa Perawat edisi 2.Jakarta : EGC

ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN CA LARING

Standard

 

Image

 

BAB I

PENDAHULUAN

                                                                                                       

  1. I.          LATAR BELAKANG

Kanker laring adalah keganasan pada laring. Kanker laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan pada orang laki-laki. Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk, logam berat.

Kanker laring dapat menyebabkan kematian. Kematian dapat terjadi tergantung stadium dan lokasinya. Pengangkatan kanker laring stadium IV membuat pasien bisa bertahan sampai 10 tahun, tetapi kalau sudah menyebar ke organ tubuh lain bisa menyebabkan kematian sebelum 10 tahun.

Menurut Meyer terdapat 12.000 kasus karsinoma laring setiap tahun di Amerika dan lebih dari 50% berasal dari pita suara, tetapi di Finlandia dan beberapa negara Eropa 2/3 bagian dari karsinoma laring merupakan karsinoma supraglotis sedang 113 bagiannya dari glotis. Bailey mendapatkan 75% dari karsinoma laring berasal dari pita suara. Di Indonesia, tumor laring di pita suara mencapai satu persen dari semua keganasan.

Di SMF THT RSUD Dr. Suetomo kami mendapatkan sebanyak 153 panderita (1991- 1995) dan 77 penderita (2000-2001). Sedangkan menurut laporan dari Bambang dkk. di Semarang (1972-1976), Empu dkk. diBandung (1975-1978), Sigit di Jakarta (1967-1979) dan Abdurrachman di Jakarta (1980-1984) masing-masing mendapatkan kasus sebanyak 69,35,162 dan 118.

(Robinson,2007) Kasus Ca Laring banyak terdapat di Indonesia dan juga dapat menyebabkan kematian, hal tersebutlah yang membuat penulis ingin mengangkat masalah tentang Ca laring dalam makalah ini yang akan dibahas dalam Bab – Bab berikut.L

 

 

  1. II.       TUJUAN
  • Tujuan Umum

Mahasiswa mendapat gambaran dan pengalaman tentang penetapan proses asuhan keperawatan secara komprehensif terhadap klien tonsillitis ini

  • Tujuan Khusus

Setelah melakukan pembelajaran tentang asuhan keperawatan dengan bronchitis kronis. Maka mahasiswa/i diharapkan mampu :

  1. Melakukan pengkajian keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  2. Merumuskan diagnosa keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  3. Merencanakan tindakan keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  4. Melaksanakan tindakan keperawatan pada klien dengan tonsillitis
  5. Melaksanakan evaluasi keperawatan pada klien dengan tonsillitis

 

BAB II

TINJAUAN TEORITIS

 

  1. I.             DEFENISI

Laring adalah organ suara yang terletak dibawah dan depan pharynx, serta ujung procsimal trachea.

Carcinoma adalah pertumbuhan ganas yang berasal dari sel epitel atau pertumbuhan jaringan yang abnormal (Kamus Keperawatan Edisi 17 Sre Itichlitt)

Ca. laring adalah adanya pertumbuhan ganas dijaringan epitel yang menggangu jaringan suara yang terletak diantara larynx atau di ujung prixsimal trachea. (Kamus Kedokteran . Dr. Heidra T. Kaksman)

Tracheostomy adalah fenetrasi (pembuatan lubang ) pada dinding anterior trachea dengan mengangkat kartilago dari cincin traghea katiga dan keempat sehingga terbentuk saluran nafas yang aman dengan bantuan pipe trakeostomi (Kamus Keparawatan, Edisi 17 Sre Itichlitt hal 440)

Ca. laring merupakan tumor yang ketiga menurut jumlah tumor ganas dibidang THT dan lebih bannyak terjadi pada pria berusia 50-70 tahun. Yang sering adalah jenis karsinoma sel skuamosa. (Kapita Selekta Kedokteran, edisi 3. Hal : 136)

Karsinoma laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara ( laring ) atau daerah lain di tenggorokan. (K.D Jayanto, 2008)

Karsinoma laring adalah keganasan pada laring yang meliputi bagian supraglotik, glotis, dan subglotis. (Suddart and Brunner)

Jadi dapat disimpulkan bahwa karsinoma laring adalah suatu keganasan yang menyerang bagian leher tepatnya pada kotak suara (laring).

 

  1. II.          ETIOLOGI
    1. Belum diketahui pasti
    2. Faktor predisposisi merokok, alcohol, dan paparan sinar radio aktif (Kapita Selelcta Kedokteran, Edisi 3, Jilid 1, hal : 136)
    3. Seseorang yang mengalami kanker dikepala dan dileher sering kali adalah seseorang yang menggunakan alcohol dan tembakau sebelum pembedahan. ( Buku Ajar. Keperawatan Medikal Bedah. Vol 2 hal. 1015)

 

  1. III.       PATOFISIOLOGI

Karsinoma laring banyak dijumpai pada usia lanjut diatas 40 tahun. Kebanyakan pada orang laki-laki.Hal ini mungkin berkaitan dengan kebiasaan merokok, bekerja dengan debu serbuk kayu, kimia toksik atau serbuk, logam berat. Bagaimana terjadinya belum diketahui secara pasti oleh para ahli.

Kanker kepala dan leher menyebabkan 5,5% dari semua penyakit keganasan.Terutama neoplasma laringeal 95% adalah karsinoma sel skuamosa.

Bila kanker terbatas pada pita suara (intrinsik) menyebar dengan lambat.Pita suara miskin akan pembuluh limfe sehingga tidak terjadi metastase kearah kelenjar limfe.Bila kanker melibatkan epiglotis (ekstrinsik) metastase lebih umum terjadi.

Tumor supraglotis dan subglotis harus cukup besar, sebelum mengenai pita suara sehingga mengakibatkan suara serak.Tumor pita suara yang sejati terjadi lebih dini biasanya pada waktu pita suara masih dapat digerakan

 

  1. IV.       MANIFESTASI KLINIS
  • Nyeri tenggorok
  • Sulit menelan
  • Suara Serak
  • Hemoptisis dan batuk
  • Sesak nafas
  • Berat Badan turun

 

  1. V.          KLASIFIKASI
  • Ø Tumor Ganas Laring
  1. Glotis

Tis Karsinoma insitu

1.      T1 Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura anterior atau posterior.

2.      T2 Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility).

3.      T3 Tumor meliputi laring dan pira suara sudah terfiksir.

4.      T4 Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari laring.

  b.      Subglotis

        Tis karsinoma insitu

1.      T1 Tumor terbatas pada daerah subglotis

2.      T2 Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir.

3.      T3 Tumor sudah mengenai laring dan pita suara sudah terfiksir.

4.      T4 Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau dua-duanya.

c.       Metastasis Jauh (M)

1.      Mx Tidak terdapat/ terdeteksi

2.      M0 Tidak ada metastasis jauh

3.      M1 Terdapat metastasis jauh.

  • Stadium
  1. ST1 T1 N0 M0

Tumor mengenai satu atau dua sisi pita suara, tetapi gerakan pita suara masih baik, atau tumor sudah terdapat pada komisura anterior atau posterior. Tumor terbatas pada daerah subglotis. Tidak ada metastasis jauh

  1. ST II T2 N0 M0

Tumor meluas ke daerah supraglotis atau subglotis, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir (impaired mobility). Tumor sudah meluas ke pita, pita suara masih dapat bergerak atau sudah terfiksir. Tidak ada metastasis jauh

  1. STIII T3 N0 M0, T1/T2/T3 N1 M0

Tumor meliputi laring dan pira suara sudah terfiksir. Tidak ada metastasis jauh

  1. STIV T4 N0/N1 M0

         Tumor sangat luas dengan kerusakan tulang rawan tiroid atau sudah keluar dari laring. Tumor yang luas dengan destruksi tulang rawan atau perluasan ke luar laring atau dua-duanya.

  1. T1/T2/T3/T4 N2/N3
  2. T1/T2/T3/T4 N1/N2/N3 M1

 

  1. VI.       KOMPLIKASI

Berdasarkan pada data pengkajian. potensial komplikasi yang mungkin terjadi termasuk:
1. Distres pernapasan (hipoksia, obstruksi jalan napas, edema trakea)

2. Hemoragi

3. Infeksi

 

  1. VII.    PENATALAKSANAAN

Pada kasus karsinoma laring dapat dilakukan pengobatan dengan radiasi dan pengangkatan laring (Laringektomi).

Pengobatan dipilih berdasar stadiumnya.Radiasi diberikan pada stadium 1 dan 4. Alasannya mempunyai keuntungan dapat mempertahankan suara yang normal, tetapi jarang dapat menyembuhkan tumor yang sudah lanjut,lebih-lebih jika sudah terdapat pembesaran kelenjar leher.

Oleh karena itu radioterapi sebaiknya dipergunakan untuk penderita dengan lesi yang kecil saja tanpa pembesaran kelenjar leher. Kasus yang ideal adalah pada tumor yang terbatas pada satu pita suara, dan masih mudah digerakkan. Sembilan dari sepuluh penderita dengan keadaan yang demikian dapat sembuh sempurna dengan radioterapi serta dapat dipertahankannya suara yang normal.

Fiksasi pita suara menunjukkan penyebaran sudah mencapai lapisan otot. Jika tumor belum menyebar kedaerah supraglotik atau subglotik, lesi ini masih dapat diobati dengan radioterapi, tetapi dengan prognosis yang lebih buruk.

Penderita dengan tumor laring yang besar disertai dengan pembesaran kelenjar limfe leher, pengobatan terbaik adalah laringektomi total dan diseksi radikal kelenjar leher.Dalam hal ini masuk stadium 2 dan 3. Ini dilakukan pada jenis tumor supra dan subglotik.Pada penderita ini kemungkinan sembuh tidak begitu besar, hanya satu diantara tiga penderita akan sembuh sempurna.

Laringektomi diklasifikasikan kedalam :

  1. Laringektomi parsial. Tumor yang terbatas pada pengangkatan hanya satu pita suara dan trakeotomi sementara yang di lakukan untuk mempertahankan jalan napas. Setelah sembuh dari pembedahan suara pasien akan parau.
  2. Hemilaringektomi atau vertikal. Bila ada kemungkinan kanker termasuk pita suara satu benar dan satu salah.Bagian ini diangkat sepanjang kartilago aritenoid dan setengah kartilago tiroid.Trakeostomi sementara dilakukan dan suara pasien akan parau setelah pembedahan.
  3. Laringektomi supraglotis atau horisontal. Bila tumor berada pada epiglotis atau pita suara yang salah, dilakukan diseksi leher radikal dan trakeotomi. Suara pasien masih utuh atau tetap normal.Karena epiglotis diangkat maka resiko aspirasi akibat makanan peroral meningkat.
  4. Laringektomi total. Kanker tahap lanjut yang melibatkan sebagian besar laring, memerlukan pengangkatan laring, tulang hihoid, kartilago krikoid,2-3 cincin trakea, dan otot penghubung ke laring.Mengakibatkan kehilangan suara dan sebuah lubang ( stoma ) trakeostomi yang permanen. Dalam hal ini tidak ada bahaya aspirasi makanan peroral, dikarenakan trakea tidak lagi berhubungan dengan saluran udara – pencernaan.Suatu sayatan radikal telah dilakukan dileher pada jenis laringektomi ini.

Hal ini meliputi pengangkatan pembuluh limfatik, kelenjar limfe di leher, otot sternokleidomastoideus, vena jugularis interna, saraf spinal asesorius, kelenjar salifa submandibular dan sebagian kecil kelenjar parotis (Sawyer, 1990).

Operasi ini akan membuat penderita tidak dapat bersuara atau berbicara. Tetapi kasus yang dermikian dapat diatasi dengan mengajarkan pada mereka berbicara menggunakan esofagus (Esofageal speech), meskipun kualitasnya tidak sebaik bila penderita berbicara dengan menggunakan organ laring.Untuk latihan berbicara dengan esofagus perlu bantuan seorang binawicara.

 

 

BAB II

ASKEP TEORITIS

 

  1. I.             PENGKAJIAN
  2. Identitas Diri

Identitas yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, kepercayaan, status pendidikan dan pekerjaan klien.

  1.  Identitas Penaggung jawab

Identitas yang harus diketahui perawat meliputi nama, umur, jenis kelamin, alamat, kepercayaan, status pendidikan dan pekerjaan penanggung jawab dan hubungan dengan klien.

  1. Keluhan Utama

Keluhan utama pada klien ca. Laring meliputi nyeri tenggorok. sulit menelan,sulit bernapas,suara serak,hemoptisis dan batuk ,penurunan berat badan, nyeri tenggorok, lemah.

  1. Riwayat Penyakit Sekarang

Biasanya suara serak adalah hal yang akan Nampak pada pasien dengan kanker pada daerah glottis, pasien mungkin mengeluhkan nyeri dan rasa terbakar pada tenggorokan, suatu gumpalan mungkin teraba di belakang leher. Gejala lanjut meiputi disfagia, dispnoe, penurunan berat badan.

  1. Riwayat Penyakit Dahulu
    1. Tanyakan apakah klien pernah mengalami infeksi kronis
    2. Tanyakan pola hidup klien (merokok, minum alkohol)
    3.  Riwayat Penyakit Keluarga

Tanyakan pada klien apakah ada keluarga yang pernah mengalami penyakit yang sama. Atau adakah keluarga yang meninggal akibat penyakit ini

 

Pemeriksaan Fisik

  1. System pencernaan

Adanya Kesulitan menelan.

Tanda : Kesulitan menelan, mudah tersedak, sakit menelan, sakit tenggorok yang menetap.Bengkak, luka. Inflamasi atau drainase oral, kebersihan gigi buruk. Pembengkakan lidah dan gangguan reflek.

  1. Neurosensori

Gejala : Diplopia (penglihatan ganda), ketulian.

Tanda : Hemiparesis wajah (keterlibatan parotid dan submandibular). Parau menetap atau kehilangan suara (gejala dominan dan dini kanker laring intrinsik). Kesulitan menelan. Kerusakan membran mukosa

  1. System  Pernapasan
    1. Adanya benjolan di leher
    2. Asimetri leher
    3. Nyeri tekan pada leher
    4. Adanya pembesaran kelenjar limfe
    5. Dipsnoe
    6. sakit tenggorokan
    7. suara tidak ada

 

  1. Pemeriksaan Penunjang
    1. Laringoskop

Untuk menilai lokasi tumor, penyebaran tumor.

  1. Foto thoraks

Untuk menilai keadaan paru, ada atau tidaknya proses spesifik dan metastasis di paru.

  1. CT-Scan

Memperlihatkan keadaan tumor/penjalaran tumor pada tulang rawan tiroid dan daerah pre-epiglotis serta metastasis kelenjar getah bening leher.

  1. Biopsi laring

Untuk pemeriksaan patologi anatomik dan dari hasil patologi anatomik yang terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa

 

 

 

 

  1. II.          DIAGNOSA
    1. 1.      Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.
    2. 2.      Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara).
    3. 3.      Gangguan rasa nyaman : nyeri berhubungan dengan penekanan serabut syaraf oleh sel-sel tumor
    4. 4.      Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan saluran pencernaan.(disfagia)
    5. 5.      Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher.

 

 

 

 

 

  1. III.             INTERVENSI

Dx 1 : Bersihan jalan napas tidak efektif berhubungan dengan pengangkatan sebagian atau seluruh glotis, gangguan kemampuan untuk bernapas, batuk dan menelan, serta sekresi banyak dan kental.

Tujuan : Klien akan mempertahankan jalan napas tetap terbuka.

Kriteria hasil : Bunyi napas bersih dan jelas, tidak sesak, tidak sianosis,frekwensi napas normal.

INTERVENSI

RASIONAL

a.       Awasi frekwensi atau kedalaman pernapasan. Auskultasi bunyi napas. Selidiki kegelisahan, dispnea, dan sianosis.

b.      Tinggikan kepala 30-45 derajat

c.       Dorong menelan bila pasien mampu.

 

d.      Berikan humidifikasi tambahan, contoh tekanan udara atau oksigen dan peningkatan masukan cairan.

 

 

e.       Awasi seri GDA atau nadi oksimetri, foto dada.

a.       perubahan pada pernapasan, adanya ronki,mengi,diduga adanya retensi sekret.

b.      memudahkan drainase sekret, kerja pernapasan dan ekspansi paru.

c.       mencegah pengumpulan sekret oral menurunkan resiko aspirasi. Catatan : menelan terganggu bila epiglotis diangkat atau edema paskaoperasi bermakna dan nyeri terjadi.

d.      fisiologi normal ( hidung) berarti menyaring atau melembabkan udara yang lewat.Tambahan kelembaban menurunkan mengerasnya mukosa dan memudahkan batuk atau penghisapan sekret melalui stoma.

e.       pengumpulan sekret atau adanya ateletaksis dapat menimbulkan pneumonia yang memerlukan tindakan terapi lebih agresif.

 

Dx 2 : Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan defisit anatomi (pengangkatan batang suara) dan hambatan fisik (selang trakeostomi).

Tujuan : Komunikasi klien akan efektif .

Kriteria hasil : Mengidentifikasi atau merencanakan pilihan metode berbicara yang tepat setelah sembuh

INTERVENSI

RASIONAL

a.       Kaji atau diskusikan praoperasi mengapa bicara dan bernapas terganggu,gunakan gambaran anatomik atau model untuk membantu penjelasan.

b.      Tentukan apakah pasien mempunyai gangguan komunikasi lain seperti pendengaran dan penglihatan

c.       Berikan pilihan cara komunikasi yang tepat bagi kebutuhan pasien misalnya papan dan pensil, papan alfabet atau gambar, dan bahasa isyarat.

 

d.      Konsul dengan anggota tim kesehatan yang tepat atau terapis atau agen rehabilitasi (contoh patologis wicara, pelayanan sosial, kelompok laringektomi) selama rehabilitasi dasar dirumah sakit sesuai sumber komunikasi (bila ada).

a.       untuk mengurangi rasa takut pada klien.

 

 

 

b.      adanya masalah lain mempengaruhi rencana untuk pilihan komunikasi.

 

 

c.       memungkingkan pasien untuk menyatakan kebutuhan atau masalah. Catatan : posisi IV pada tangan atau pergelangan dapat membatasi kemampuan untuk menulis atau membuat tanda.

d.      Kemampuan untuk menggunakan pilihan suara dan metode bicara (contoh bicara esofageal) sangat bervariasi, tergantung pada luasnya prosedur pembedahan, usia pasien, dan motivasi untuk kembali ke hidup aktif. Waktu rehabilitasi memerlukan waktu panjang dan memerlukan sumber dukungan untuk proses belajar.

 

Dx 3 : Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, pembengkakan jaringan,adanya selang nasogastrik atau orogastrik.

Tujuan : Nyeri klien akan berkurang atau hilang.

Kriteria hasil : Klien mengatakan nyeri hilang, tidak gelisah, rileks dan ekpresi wajah ceria

INTERVENSI

RASIONAL

a.       Sokong kepala dan leher dengan bantal.Tunjukkan pada pasienbagaimana menyokong leher selama aktivitas.

 

 

 

b.      Dorong pasien untuk mengeluarkan saliva atau penghisap mulut dengan hati-hati bila tidak mampu menelan

c.       Catat indikator non verbal dan respon automatik terhadap nyeri. Evaluasi efek analgesik.

d.      Kolaborasi dengan pemberian analgesik, contoh codein, ASA, dan Darvon sesuai indikasi.

a.       kelemahan otot diakibatkan oleh reseksi otot dan saraf pada struktur leher dan atau bahu. Kurang sokongan meningkatkan ketidaknyamanan dan mengakibatkan cedera pada area jahitan.

b.      menelan menyebabkan aktivitas otot yang dapat menimbulkan nyeri karena edema atau regangan jahitan.

c.       alat menentukan adanya nyeri dan keefektifan obat

 

d.      derajat nyeri sehubungan dengan luas dan dampak psikologi pembedahan sesuai dengan kondisi tubuh.Diharapkan dapat menurunkan atau menghilangkan nyeri.

 

Dx 4 : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan gangguan jenis masukan makanan sementara atau permanen, gangguan mekanisme umpan balik keinginan makan, rasa, dan bau karena perubahan pembedahan atau struktur, radiasi atau kemoterapi.

Tujuan : Klien akan mempertahankan kebutuhan nutrisi yang adekuat.

Kriteria hasil : Membuat pilihan diit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi dalam situasi individu, menunjukkan peningkatan BB dan penyembuhan jaringan atau insisi sesuai waktunya

INTERVENSI

RASIONAL

a.       Auskultasi bunyi usus

 

b.      Pertahankan selang makan, contoh periksa letak selang : dengan mendorongkan air hangat sesuai indikasi

 

 

c.       Ajarkan pasien atau orang terdekat teknik makan sendiri, contoh ujung spuit, kantong dan metode corong, menghancurkan makanan bila pasien akan pulang dengan selang makanan. Yakinkan pasien dan orang terdekat mampu melakukan prosedur ini sebelum pulang dan bahwa makanan tepat dan alat tersedia di rumah

d.      Berikan diet nutrisi seimbang (misalnya semikental atau makanan halus) atau makanan selang (contoh makanan dihancurkan atau sediaan yang dijual) sesuai indikasi.

a.       makan dimulai hanya setelah bunyi usus membik setelah operasi.

b.      selang dimasukan pada pembedahan dan biasanya dijahit.Awalnya selang digabungkan dengan penghisap untuk menurunkan mual dan muntah. Dorongan air untuk mempertahankan kepatenan selang.

c.       membantu meningkatkan keberhasilan nutrisi dan mempertahankan martabat orang dewasa yang saat ini terpaksa tergantung pada orang lain untuk kebutuhan sangat mendasar pada penyediaan makanan.

 

 

 

d.      macam-macam jenis makanan dapat dibuat untuk tambahan atau batasan faktor tertentu, seperti lemak dan gula atau memberikan makanan yang disediakan pasien

 

Dx 5 : Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan suara,perubahan anatomi wajah dan leher

Tujuan : Mengidentifikasi perasaan dan metode koping untuk persepsi negatif pada diri sendiri

Kriteria hasil : menunjukkan adaptasi awal terhadap perubahan tubuh sebagai bukti dengan partisipasi aktivitas perawatan diri dan interaksi positip dengan orang lain.Berkomunikasi dengan orang terdekat tentang perubahan peran yang telah terjadi.Mulai mengembangkan rencana untuk perubahan pola hidup. Berpartisipasi dalam tim sebagai upaya melaksanakan rehabilitasi

INTERVENSI

RASIONAL

a.       Diskusikan arti kehilangan atau perubahan dengan pasien, identifikasi persepsi situasi atau harapan yang akan dating

b.      Catat bahasa tubuh non verbal, perilaku negatif atau bicara sendiri. Kaji pengrusakan diri atau perilaku bunuh diri

c.       Catat reaksi emosi, contoh kehilangan, depresi, marah

 

 

 

 

d.      Kolaboratif dengan merujuk pasien atau orang terdekat ke sumber pendukung, contoh ahli terapi psikologis, pekerja sosial, konseling keluarga.

a.       alat dalam mengidentifikasi atau mengartikan masalah untuk memfokuskan perhatian dan intervensi secara konstruktif

b.      dapat menunjukkan depresi atau keputusasaan, kebutuhan untuk pengkajian lanjut atau intervensi lebih intensif

c.       pasien dapat mengalami depresi cepat setelah pembedahan atau reaksi syok dan menyangkal. Penerimaan perubahan tidak dapat dipaksakan dan proses kehilangan membutuhkan waktu untuk membaik

d.      pendekatan menyeluruh diperlukan untuk membantu pasien menghadapi rehabilitasi dan kesehatan. Keluarga memerlukan bantuan dalam pemahaman proses yang pasien lalui dan membantu mereka dalam emosi mereka. Tujuannya adalah memampukan mereka untuk melawan kecendrungan untuk menolak dari atau isolasi pasien dari kontak sosial.

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

  1. I.       KESIMPULAN

Kanker merupakan massa jaringan abnormal tumbuh terus menerus, tidak pernah mati. Tumbuh dan tidak terkoordinasi dengan jaringan lain, akibatnya merugikan tubuh dimana ia tumbuh. Kanker Laring adalah keganasan pada pita suara, kotak suara (laring) atau daerah lainnya di tenggorokan.

Penyebab utama dari kanker laring tidak diketahui. Kanker laring mewakili 1% dari semua kanker dan terjadi lebih sering pada pria, faktor-faktor penyebabnya adalah Tembakau, Alkohol dan efek kombinasinya, Ketegangan vocal, Laringitis kronis, Pemajanan industrial terhadap karsinogen, Defisiensi nutrisi (riboflavin) dan, Predisposisi keluarga

 

  1. II.    SARAN
  2. Untuk Instansi

Untuk pencapaian kualitas keperawatan secara optimal secara optimal sebaiknya proses keperawatan selalu dilaksanakan secara berkesinambungan

 

  1. Untuk Klien dan Keluarga

Perawatan tidak kalah pentingnya dengan pengobatan karena bagaimanapun teraturnya pengobatan tanpa perawatan yang sempurna maka penyembuhan yang diharapkan tidak tercapai.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Brunner & Suddart. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8. Jakarta : EGC

Erfansah . (2010). Asuhan Keperawatan Kanker Laring.blogspot.com

Kepacitan. 2010. Askep Kanker Laring. http://kepacitan.wordpress.com/2010/12/15/askep-kanker-laring/.